Gerakan Olahraga Nasional, Membangun Generasi Sehat, Cerdas, dan Pancasilais.

Pak Harto dalam Pekan Olahraga Nasional

MENGENAL HM. SOEHARTO—Pada hari Jum’at tanggal 9 Oktober 1983 tepatnya sore hari, Pak Harto  meresmikan selesainya pemugaran Stadion Sriwedari. Dalam kesempatan ini, Pak Harto menetapkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional, sekaligus awal dari gerakan olahraga nasional. 

Pak Harto, Presiden RI ke-2, dalam kata sambutannya menyatakan bahwa sejak semula bertekad untuk melakukan pembangunan segala bidang, termasuk salah satunya bidang olahraga. Pak Harto menegaskan bahwa olahraga merupakan kekuatan perjuangan, oleh karena itu Pak Harto pada kesempatan tersebut juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga tradisi olahraga sebagai kekuatan perjuangan, karena tradisi olah raga diharapkan mampu menciptakan generasi muda bangsa yang sehat sehingga memiliki kemampuan untuk turut andil dalam mengisi pembangunan. 
Dalam berbagai kesempatan, Pak Harto dalam sambutan dan atau pidatonya selalu menegaskan tentang pentingnya membangun masyarakat dan manusia Indonesia sejak usia dini. Itu sebab, selain gerakan olahraga nasional, Pak Harto juga menekankan pentingnya keseimbangan nutrisi bagi keluarga dengan istilah yang sangat populer “Empat Sehat Lima Sempurna”. 
Nutrisi yang sehat, tradisi olahraga dan tersedianya  kesempatan memperoleh pendidikan adalah cara Pak Harto mewujudkan cita-cita mencetak generasi muda yang sehat, cerdas dan pintar. Bahwa olahraga tidak bisa berdiri sendiri dalam perannya membangun generasi yang sehat jasmani dan rokhani. Dibutuhkan bidang lain sebagai pendukung, itu sebab Pak Harto berulang-ulang menyampaikan pembangunan di segala bidang. 
Terkait tradisi olahraga, pada masa Orde Baru, harus diakui, semuanya dijalankan dengan sistematis. Dari usia sekolah dasar sudah dikenalkan pentingnya olahraga, bukan hanya sebatas teori-teori dalam mata pelajarah olahraga tetapi dalam kegiatan olahraga secara nyata setiap harinya sebelum siswa memulai pelajaran sekolah, yang dikenal dengan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). 
SKJ pertama kali dikenalkan pada tahun 1984, satu tahun setelah dicanangkannya gerakan olahraga nasional. Seluruh siswa mulai usia sekolah dasar selalu melakukan senam dipimpin oleh guru masing-masing sebelum memasuki kelas. Sangat mudah dipahami, bahwa tujuan dari senam ini adalah agar siswa ketika memulai pelajaran dalam keadaan bugar.
Gerakan sederhana dalam SKJ berikut irama pengiring sangat mudah diingat bahkan oleh anak-anak, Tetapi dampak yang diberikan oleh tradisi olahraga melalui senam SKJ bukanlah dampak yang sederhana tetapi dampak yang luar biasa, selain bugar, anak-anak terbiasa untuk disiplin tepat waktu karena ada kerinduan untuk bersama-sama teman sekelas dan guru untuk bersenam bersama. 
Jadi SKJ, yang merupakan salah satu tools dalam gerakan olahraga nasional yang dicanangkan Pak Harto adalah wujud dari hasil pemikiran dan analisa hebat semua tim kala itu tentang pentingnya melestarikan tradisi olahraga, karena bukan hanya sehat dampak akhirnya tetapi juga kedisiplinan serta rasa kebersamaan dimana rasa kebersamaan adalah bagian dari sila Pancasila. 
Hal ini semakin mengukuhkan bahwa Pak Harto adalah salah satu Kepala Negara yang memiliki konsistensi membangun manusia Pancasilais. Manusia Pancasilais yang sehat dan cerdas. Dalam pencanangan Gerakan Olahraga Nasional bersamaan dengan ditetapkannya Hari Olahraga Nasional pada tanggal 9 September 1983, Pak Harto seolah ingin menyampaikan pesan tersirat bahwa Hari Olahraga Nasional (Haornas) adalah untuk diperingati setahun sekali sedangkan Gerakan Olahraga Nasional adalah untuk dilakukan setiap hari. (Baca berita : Sumbangsih Yayasan Supersemar Untuk Atlet dan Pelatih)

RABU, 9 SEPTEMBER 2015
Penulis : Gani Khair
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...