Gerobak Sapi Masih Jadi Andalan di Pesisir Barat Lampung

LAMPUNG — Potensi Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung yang kaya akan sumber daya alam menjadi keunggulan di kabupaten yang berada di pinggir Samudera Hindia tersebut. Diantaranya hasil perkebunan petani seperti lada, kelapa, padi, jengkol, petai, kopi dan lainnya.
Potensi melimpah hasil pertanian tersebut bahkan menjadi andalan daerah pemekaran Kabupaten Lampung Barat tersebut. Hasil bumi tersebut dibawa ke wilayah Kabupaten Tanggamus dan beberapa dikirim ke Kota Bandarlampung dan ke Pulau Jawa.
Saat musim panen warga di Kecamatan Bengkunat Blimbing bahkan mendapat hasil panen lada berton ton salah satunya di wilayah Pekon Sumberejo, Pekon Way Haru,Pekon Bandar Dalam, Pekon Way Tias Siring Gading yang sebagian besar memiliki perkebunan lada.
Potensi yang besar dari hasil rempah rempah tersebut bahkan sangat menguntungkan petani dengan harga komoditas lada yang  sekilo mencapai Rp.110ribu. Hasil perkebunan lada tersebut diangkut dari wilayah terisolir menggunakan alat transportasi gerobak yang menggunakan tenaga sapi. 
Menurut salah satu warga di Pekon Sumberejo, Andri (50) alat angkut gerobak digunakan sejak puluhan tahun lalu oleh warga karena infrastruktur jalan masih minim dan kondisinya memprihatinkan saat musim penghujan karena jalan di wilayah Sumberejo menuju Way Haru dan sekitarnya didominasi jalanan tanah.
“Setiap hari gerobak sapi mengangkut hasil bumi ke pasar terdekat yang dijual ke pasar terdekat dan setelah pulang membawa barang barang kebutuhan warga di daerah yang terisolir tersebut gerobak sapi lebih banyak digunakan saat musim penghujan,”ungkap Andri kepada Cendana News, Selasa(8/9/2015)
Ia mengungkapkan saat ini ongkos kirim lada dari wilayah pekon Way Haru yang terisolir perkilo mencapai Rp.1500 sehingga setiap 100 kilogram yang diangkut menggunakan karung sebesar Rp.150ribu diangkut menggunakan gerobak sapi atau ojek kendaraan roda dua. Ongkos tersebut lebih murah dimusim kemarau sebab bisa menggunakan ojek kendaraan roda dua yang juga ada di wilayah tersebut meskipun jumlahnya belum cukup banyak.
“Ongkos musim kemarau lebih murah dibandingkan musim penghujan karena kondisi jalan yang sangat sulit terutama kondisi jalanan yang becek dan harus melewati beberapa sungai membuat ongkos lebih mahal,”ungkap Andri.
Meskipun jumlah kendaraan roda dua sudah cukup banyak namun masyarakat setempat masih mempertahankan kearifan lokal transportasi gerobak sapi tersebut. Setiap hari bahkan puluhan gerobak sapi melintasi jalan jalan kampung sejak pagi bahkan malam hari terutama pada hari hari tertentu saat ada pasar malam.
“Pasar malam di sini memang pasar yang berlangsung sejak malam hingga pagi hari sehingga warga dari daerah berdatangan menjual hasil bumi dan pulang membawa kebutuhan dari pasar,”ungkap Andri.
Gerobak sapi yang memuat berbagai kebutuhan tersebut bahkan menjadi penunjang utama warga tersebut pada musim penghujan bahkan jumlahnya bisa mencapai ratusan sebagai pengganti transportasi kendaraan roda dua yang sangat sulit digunakan dalam kondisi jalan yang berlumpur serta berada di sepanjang pesisir pantai.
Gerobak sapi berangkat dari pekon pekon yang ada di wilayah Kecamatan Belimbing secara beriringan karena melewati medan jalan yang sulit. Pemilik gerobak bahkan harus beristirahat beberapa jam di area yang banyak rumput untuk menempuh jarak sekitar 18 kilometer sehingga berangkat sejak subuh.
Keganasan ombak Samudera Hindia dan muara muara sungai penuh buaya menjadi kendala bagi para penyedia jasa angkut gerobak sehingga mereka harus menghitung sesuai penanggalan bulan dan melihat pasang surut air laut. Ketika pasang air laut pemilik gerobak akan beristirahat di padang rumput dan mengistirahatkan sapi penarik gerobak sementara perjalanan akan dilanjutkan saat surut dan pantai bisa dilalui meskipun harus naik rakit yang disediakan oleh penduduk dengan ongkos naik rakit sekitar Rp10ribu.
“Kalau tidak memperhatikan hitungan pasang surut kami bisa celaka sebab ombak menerjang hingga ke bibir pantai dan berbahaya,”ungkap Sodrin salah satu penyedia jasa gerobak sapi.
Pilihan transportasi ojek dipergunakan oleh warga jika memiliki keperluan mendesak dan waktu cepat karena untuk pulang pergi ojek sepeda motor mematok ongkos jasa ojek sebesar Rp.200ribu hingga Rp.250ribu. Resiko terjangan ombak pesisir Barat Samudera Hindia menjadi faktor tingginya jasa ojek di wilayah tersebut ditambah infrastruktur jalan yang masih memprihatinkan.
Meskipun keberadaan ojek motor sudah cukup banyak namun pemilik gerobak sapi dan warga pemilik hasil bumi masih saling membutuhkan terutama disaat musim penghujan dimana jalan di wilayah tersebut yang tak bisa dilalui kendaraan bermotor.

SELASA, 8 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...