Hingga Agustus, Penyerapan Danais Yogyakarta Masih 43 Persen

YOGYAKARTA — Dengan adanya Undang-undang Keistimewaan DIY, Pemerintah Daerah mendapatkan dana keistimewaan (danais) setiap tahunnya. Tahun 2015, dana keistimewaan yang diterima sebesar Rp 547,5 Milyar. Namun dari danais yang telah dua kali dicairkan, sebesar Rp 437,96 Miliar atau 85 persen dari total danais, yang saat ini terserap baru 43 persen.
Pemerintah Daerah DIY, saat ini masih menggenjot berbagai program kegiatan seni budaya dan pembangunan heritage serta kawasan Kota Yogyakarta sebagai kota budaya, guna memaksimalkan penggunaan dana keistimewaan. Pasalnya sampai awal bulan September ini, penggunaan dana keistimewaan yang telah dicairkan melalui dua tahap pencairan masih belum maksimal digunakan.
Kepala Bidang Anggaran Belanja Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) DIY, Aris Eko dihubungi Jumat (04/09/2015) mengatakan, penyerapan dana keistimewaan DIY dari dua tahap pencairan sampai awal bulan September 2015 ini baru mencapai 43 persen. Sementara itu,  Pemda DIY menargetkan penyerapan anggaraan harus sudah mencapai 80 persen dari keseluruhan dana yang sudah dicairkan paling lambat bulan Oktober nanti. 
“Ini karena menjadi syarat pencairan danais tahap ketiga nanti”, cetus Aris.
Minimnya serapan danais itu, menurut Aris terjadi karena masih banyak program dan proyek yang telah direncanakan namun baru akan berjalan di bulan September dan Oktober. Misalnya, proyek-proyek dan program hasil lelang yang biasanya memang baru berjalan di bulan September dan Oktober.
Anggaran Danais DIY 2015 berjumlah Rp 547,5 Milyar, dicairkan melalui tahap pertama sebesar 25 persen dari total anggaran yakni Rp 136,8 Miliar. Lalu tahap kedua 55 persen atau sebesar Rp 301.097 Miliar dan tahap ke tiga nanti sebesar 20 persen. Namun demikian, kata Aris, untuk bisa mencairkan danais tahap ketiga pada awal November nanti, penyerapan atau penggunaan danais tahap satu dan dua harus sudah terserap sebanyak 80 persen.
Sementara itu berkait penggunaan dana keistimewaan, Aris menjelaskan jika selama ini bidang kebudayaan mendapat alokasi anggaran yang paling besar, yaitu Rp 161,9 Miliar. Lalu disusul bidang pekerjaan umum (PU) sebanyak Rp 25,6 Miliar dan bidang pertanahan mencapai Rp 3,76 Miliar, serta bidang kelembagaan sebesar Rp 738 juta.
Dijelaskan Aris, anggaran bidang kebudayaan digunakan untuk membiayai segala kegiatan dan program yang berhubungan dengan kebudayaan dan cagar budaya.  Anggaran untuk mengurusi cagar budaya dan warisan budaya itu mencapai Rp 93 Milliar. Sedangkan anggaran bidang PU paling banyak digunakan untuk program Jaringan Jalan Lintas Selatan (JJLS) Yogyakarta yang sampai sekarang sudah terserap Rp 44 Miliar. 
“Bidang PU ini antara lain juga termasuk program pemugaran kawasan Titik Nol KM Yogya,” pungkasnya. 
JUMAT, 4 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...