Idul Adha 2015, Penjualan Kambing Kurban Di Semarang Turun

Pedagang kambing kurban
SEMARANG — Mendekati pelaksanaan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 24 September 2015, penjualan hewan kurban khususnya jenis kambing di wilyah Semarang dan sekitarnya mengalami ” kelesuan “. Hal ini sangat bertolak belakang dibandingkan dengan harga penjualan hewan kurban jenis sapi atau lembu yang laris manis dan harganya cenderung stabil.
Hingga H – 1 Idul Adha 1436 Hijriah, penjualan kambing di wilayah Semarang dan sekitarnya mengalami penurunan omzet daripada tahun lalu. Di beberapa tempat di kota Semarang stok persediaan kambing masih banyak, lantaran sepi dari pembeli.
Berdasarkan pantauan Cendana News di lapangan, salah satu faktor penyebab utama lesunya penjualan kambing kurban tahun ini, akibat adanya pola pembelian hewan kurban jenis sapi atau lembu secara kolektif dengan sistem patungan orang banyak.
Sekedar contoh, misalnya seekor hewan kurban sapi atau lembu dihargai 15 – 22 juta, apabila pembelian dilakukan dengan sistem patungan sekitar 7 orang, masing – masing cukup membayar antara Rp. 2.142.857 sampai Rp. 3.142.857 saja, tidak perlu membeli sendirian seekor sapi atau lembu dengan harga mahal.
Faktor lainnya yang menyebabkan lesunya penjualan kambing kurban, karena kebanyakan para pemilik kambing di daerah sesegera mungkin mempercepat penjualan kambingnya akibat kesulitan mencari pakan ternaknya. Dengan demikian stok persediaan kambing di kota – kota besar cukup melimpah, otomatis harga kambing kurban terus mengalami penurunan.
” Penjualan hewan kurban jenis kambing tahun ini jauh lebih sepi jika dibandingkan dengan penjualan hewan kurban jenis sapi atau lembu,” kata Yatiman ketika ditemui Cendana News di Semarang, Rabu (23/09/2015).
Yatiman menambahkan, dalam seminggu dari total 70 ekor kambing, baru laku 10 ekor saja, sedangkan total 30 ekor sapi, sudah laku terjual 20 ekor, tinggal sisa 10 ekor sapi saja, padahal kalau dilihat dari harga, jelas harga sapi jauh lebih mahal dari harga kambing.
Untuk meminimalisasi kerugian, maka para pedagang kambing kurban terpaksa ” banting ” harga, dengan menjual dengan kambing meraka dibawah harga normal, supaya segera cepat laku. Padahal kalau dihitung – hitung, harga yang ditawarkan tersebut belum termasuk biaya pakan, pemeliharaan dan ongkos angkut dari daerahnya masing – masing.
RABU, 23 September 2015
Jurnalis       : Eko Sulestyono
Foto            : Eko Sulestyono
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...