Jaring Aspirasi, Titiek Terima Curahan Kerinduan Warga pada Pak Harto

Titiek Soeharto menyerahkan bantuan berupa indukan ikan lele
YOGYAKARTA — Guna menyerap aspirasi masyarakat, Minggu (06/09/2015), Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Haryadi atau akrab disapa Titiek Soeharto, meluangkan waktu liburnya dengan mengunjungi sentra pembibitan dan pendederan ikan lele sistim bioflok di Berbah, Sleman, Yogyakarta. Kunjungan itu merupakan bentuk kepedulian Titiek Soeharto terhadap pengembangan dan pemberdayaan Mina dalam perannya mendukung program pemerintah bidang perikanan.
Kedatangan Titiek Soeharto di sentra pembibitan dan pendederan ikan lele yang dikelola Kelompok Tani Mulia Catfish, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, disambut penuh harap dan suka cita. Pasalnya, para petani ikan dan pelaku usaha kecil mengaku rindu dengan perhatian pemimpin di bidang pertanian dan perikanan. 
Seperti yang diungkap Tino, warga asal Piyungan, Bantul, Yogyakarta, yang begitu diberi kesempatan bertanya justru mengungkap kerinduannya terhadap pola asuh mendiang Presiden Soeharto kepada para petani.
Tino mempertanyakan, mengapa kelompencapir sekarang ini tidak ada lagi sehingga sambung rasa di antara para petani dan pemimpin tak lagi terjembatani dengan baik. Tino membeberkan, bahwa selama ini pejabat blusukan justru ke sungai. “Mengapa tidak menemui rakyat seperti kami seperti Mbak Titiek?”, ujar Tino, masygul.
Senada dengan pertanyaan itu, Suliantoro alias Aan, warga desa Jombor, Sleman, Yogyakarta mengeluhkan begitu banyaknya bahan pangan saat ini yang diimport dari China. Aan mengaku, di desa kelahirannya di Brebes, Jawa Tengah, bahkan ada pedagang bawang merah import di desa terpencil. 
Menurut, Aan, hal itu tentu saja sangat mengejutkan, lantaran barang import tersebut bisa masuk ke desa-desa yang dengan demikian menurunkan harga jual bawang lokal. Karena itu, Aan pun menyayangkan jika selama ini harga bahan pangan dan kebutuhan sehari-hari seolah tak terkendali. 
“Mengapa jika di zaman Pak Harto ada kendali harga pangan dan pupuk, namun sekarang ini seolah tidak ada proteksi dari pemerintah bagi kami rakyat kecil ini”, ungkap Aan.
Pun demikian pula keluhan datang dari Sudiyanto, Ketua Mina Prima Gunung Kidul yang turut hadir dalam acara jaring aspirasi bersama Titiek Soeharto, tak ketinggalan mengungkap kekesalannya terhadap harga-harga bahan pangan dari luar yang harganya membuat produk pertanian dalam negeri kalah bersaing.        
Menanggapi semua keluhan tersebut, Titiek Seoharto mengatakan, selama ini ia pun  merasa gerah dengan kondisi tersebut. Dahulu, kata Titiek, negara mempunyai Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) sehingga kontinyuitas pembangunan bisa terjamin. 
Titiek mengaku heran pula, mengapa program-progam terdahulu yang memang baik tidak diteruskan oleh pemerintahan sekarang. Apalagi setelah menjadi anggota dewan, ujar Titiek, keheranan justru bertambah karena melihat begitu banyak dana bantuan namun rakyat masih saja mengeluh. 
“Lalu, ke mana dana bantuan itu?”, tanya Titiek.
Namun demikian, tentu saja Titiek datang tak bertujuan untuk berkeluh kesah. Bahkan, Titek berharap kehadirannya bisa bermanfaat. Karena itu pertemuan yang memang ditujukan sebagai media menyerap aspirasi masyarakat akan ditindak-lanjuti. Titiek menegaskan, jika memang ada potensi, SDM dan niat, pihaknya akan turut memperjuangkan berbagai keluhan warga. 
“Misalnya di kelompok pembibitan dan pendederan ikan lele ini. Potensi dan SDM sudah ada. Namun keterbatasan lahan dan alat menjadi kendala. Kami akan bantu menghubungkan ke beberapa dinas terkait, agar semua masalah yang dikeluhkan para petani bisa diatasi,”ungkapnya.
Lebih jauh, Titiek berharap, agar desa Tegaltirto yang telah dicanangkan sebagai desa minapolitan bisa terus mempertahankan predikatnya itu. Pihaknya sendiri melalui Komisi IV DPR RI bidang perikanan dan kelautan, akan membantu memperlancar anggaran yang selama ini memang disediakan. 
“Pemerintahkan sudah menyediakan Anggaran Tahun 2015 untuk bidang Kelautan dan Perikanan sekitar 10 Triliun. Ini harus dimanfaatkan tepat sasaran”, katanya.
Sementara itu berkait harga kebutuhan pangan lokal yang selalu terpuruk akibat banyaknya bahan pangan import, Titiek menjelaskan jika Bulog saat ini harus dikembalikan sesuai fungsinya sebagai pengendali harga. Dulu, katanya, Bulog bisa mengatur harga beras dan pupuk sehingga petani merasa terlindungi. Namun demikian, Titiek tak ingin saling menyalahkan pihak lain. Titiek mengajak semua masyarakat untuk terus saja bergerak, berkarya dan berkreasi. 
“Kita tidak perlu cari-cari kesalahan. Bergerak saja dan ke depan kita harus cari pemerintahan baru seperti Pak Harto yang bisa mengerti keluhan para petani”, tandas Titiek.
Dalam kesempatan jaring aspirasi bersama petani ikan di Berbah Sleman, Titiek mempersilahkan kepada kelompok-kelompok pertanian untuk melayangkan surat dan proposal pengajuan permintaan dana bantuan ke Komisi IV DPR RI. Sepanjang proposal itu memenuhi persyaratan, surat tersebut pasti akan ditindak-lanjuti. Titek yang datang dalam acara jaring aspirasi tersebut didampingi sejumlah staff, tak lupa memberikan sejumlah bantuan simbolis 15 ekor indukan ikan lele yang diterima oleh Ketua Kelompok Mina Mulia Catfish, Taufik Nurahman serta didampingi Kepala Desa Tegaltirto, Susilo Nugroho

MINGGU, 6 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...