Jatuhnya Harga Bawang dan Mahalnya Pestisida Membuat Petani Merugi

PROBOLINGGO — Probolinggo merupakan salah satu penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Tak heran jika cukup banyak lahan pertanian yang di tanami bawang merah.
Sejumlah pekerja terlihat sedang mempersiapkan beberapa jenis pestisida untuk disemprotkan ke tanaman bawang merah yang ada di Desa Tegalrejo Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Hartono salah satu pekerja di lahan milik Bapak Kedik ini menjelaskan bahwa tanaman bawang merah ini setiap dua hari sekali harus di semprot karena jika tidak tanamannya bisa rusak diserang hama.
“Hama yang banyak menyerang biasanya ulat maupun kutu,” ucapnya di kebun miliknya, Jumat (04/09/2015).
Menurutnya, petani bawang merah harus berani keluar uang untuk beli pestisida seperti juragannya. Karena jika terlalu irit pestisida, di jamin tanaman bawang merahnya akan rusak.
Di lahan seluas 400 meter persegi milik juragannya ini sekali panen biasanya bisa menghasilkan 4 ton bawang merah.
Namun begitu, harga bawang merah yang kini jatuh dan semakin mahalnya harga obat pestisida, membuat petani bawang merah merugi.
“Harga bawang merah jatuh di kisaran Rp. 8.000,-/kg untuk kualitas bagus dan Rp. 4.000,-/kg untuk kualitas biasa. Sedangkan harga obat pestisida paling murah sekitar Rp. 350.000,-/250 liter,” terangnya. Padahal setiap dua hari sekali bawang merah harus di semprot hingga panen sekitar usia dua bulan,” imbuhnya.
Menurut Hartono, pada pemerintahan sebelumnya harga normal bawang merah berkisar di angka Rp.20.000,-/kg bahkan pernah mencapai Rp.40.000,-/kg. Tapi sekarang di era pemerintahan Jokowi, harga bawang merah terjun bebas menjadi Rp.8.000,-/kg.
“Waktu pemerintahan Jokowi, harga bawang merah pernah mencapai Rp. 23.000,- tapi itu hanya bertahan selama seminggu dan kemudian terus turun hingga sekarang,” tutupnya.

JUMAT, 4 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...