Jelang Idul Adha, Harga Daging di Manado Fluktuatif

MANADO — Mendekati hari raya Idul Adha, harga daging di Manado masih belum stabil. Seperti halnya daging sapi, karena keterbatasan stok, harga di pasar tradisional di Manado, Sulawesi Utara masih bertengger di Rp 90.000 per kilo hingga Rp 100.000 per kilo.
Salah satu pedagang daging sapi yang ditemui di pasar Karombasan ,Wanea, Manado pada Rabu (16/09/2015),  menuturkan masih mahalnya karena stok sapi menjelang hari raya Idul Adha berkurang, sehingga daging sapi yang dijual di pasar dinaikkan oleh pedagang. 
“Stok sapi kurang sekarang, sehingga kami menaikkan harga, apa lagi mendekati hari raya kurban” ujar Iwan kepada Cendana News di Pasar Karombasan.
Menurut Iwan, meski saat ini hari raya Idul Adha tinggal minggu depan, namun stok di rumah pemotongan hewan kurang, sehingga saat ini sapi yang masih disimpan, merupakan stok sapi tahun 2014 lalu. kata Iwan, Kalaupun ada sapi impor yang masuk, itu berasal dari kota Makassar dan Gorontalo, dan jumlahnya masih terbatas beberapa ekor saja. 
“Stok sapi diperternakan rumah pemotongan hewan masih stok lama, sehingga harga daging mahal, karena pedagang menahan sapi untuk dipotong pada saat mendekati hari raya Idul Adha nanti” ujar Iwan.
Berbeda dengan sapi, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di kota Manado, Sulawesi Utara, mengalami penurunan. Pantauan Cendana News di pasar Karombasan dan Pasar Bersehati pada Rabu (16/09/2015) harga daging ayam saat ini dijual oleh pedagang dengan harga Rp 30.000 per kilo. Sedangkan sebelumnya harga daging ayam masih berkisar Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per kilonya.
Menurut Walawati pedagang ayam di pasar Karombasan, turunnya harga daging ayam karena sepi pembeli, sedangkan stok daging ayam meningkat, sehingga pedagang menurunkan harga daging, agar tetap laku terjual. 
Walawati mengatakan, sepinyanya pembeli daging ayam, dipicu oleh faktor gejolak pertumbuhan ekonami yang belum stabil, sehingga sepi pembeli, yang berpengaruh pada harga daging ayam. 
“Harga daging ayam turun, karena sepi pembeli, ini karena gejolak ekonomi yang belum stabil, sehingga masyarakat susah mencari harga kebutuhan yang merah dan bisa dijangkau” kata Walawati dengan muka lesuh.
Walawati berharap Pemerintah segera memperbaiki gejolak pertumbuhan ekonomi akar kembali stabil, sehingga masyarakat bisa menikmati harga kebutuhan pokok yang bisa dijangkau, sehingga bisa menguntungkan juga bagi pedangang.

RABU, 16 September 2015
Jurnalis       : Ishak Kusrant
Foto            : Ishak Kusrant
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...