‘Jogja Ora Didol’ Gerakan Melawan Kapitalisme di Yogyakarta

Koko Triarko Jurnalis Cendana News wilayah DI. Yogyakarta
CATATAN JURNALISJogja Ora Didol, artinya Jogja tidak dijual. Istilah ini pada awalnya hanya sebuah judul lagu dari kelompok musik alternatif yang beken dengan julukan Jogja Hiphop. Lagu itu diciptakan pada tahun 2014, dan sampai kini gaungnya masih membahana. Taklain, karena judul dan isi lagu tersebut begitu tepat menggambarkan kereesahan sebagian masyarakat Kota Yogyakarta akibat maraknya pembangunan hotel dan mall-mall yang dianggap mengancam eksistensi rakyat kecil.
Lagu Jogja Ora Didol diciptakan oleh seorang rapper atau penyanyi rap bernama Marzuki Mohamad. Lagu itu menjadi hitt bukan hanya karena gender musiknya yang unik. Namun, juga syair lagunya yang sarat dengan pesan sosial, budaya sekaligus moral. Lagu itu tercipta sebagai respon seniman terhadap perkembangan Kota Yogyakarta yang dinilai semakin jauh dari karakternya sebagai kota budaya.
Syair lagu tersebut, antara lain berbunyi pasari lang kumandange, malah kalah karo mall-mall sing padhang lampune, simbok-simbok kepeksa nguculi jarike, dha ganti katok gemes macak kaya SPG, Mereapi gregetan, blegere ilang, Ketutupan iklan, dadi angel disawang, Neng duwur dalan, balihone malang, Sampah visual pancen kudu dibuang, Lan, lan, hotel, hotel bermunculan, Suk-suk pari ambruk karo pemukiman, Lahan hijau makin dihilangkan, Ruwet, macet, Jogja berhenti nyaman. Hoi! Balekno kutaku, kuwi dudu nggonmu, Bukan hanya milik kalangan kapital saja, Rumah bersama untuk kita semua.. dan seterusnya.
Singkatnya, arti syair lagu tersebut adalah kritik terhadap perkembangan di Kota Yogyakarta yang semakin dibanjiri oleh bangunna-bangunan besar yang sama sekali tidak selaras dengan nafas pembangunan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa. Pasar tradisional hilang, tergeser oleh mall-mall besar. Ibu-ibu pedagang terpaksa melepas kain jariknya, dan berganti pakain sexy seperti Sales Promomotion Gilrs (SPG). Sementara itu, begitu banyak papan reklame dipasang di jalan-jalan. Bahkan di sepanjang jalan utama Malioboro. Puluhan papan reklame itu digambarkan dalam sayir Merapi gregetan, blegere ilang. Ketutupan iklan dadi angel disawang. Sampah visual pancen kudhu dibuang. Terjemahan bebasanya: Gunung Merapi marah, tubuh gunung tidak kelihatan karena sulit dipandang, akibat tertutup papan reklame yang dianggap sampah visual dan harus dibuang.
Begitulah kira-kira makna lagu Jogja Ora Didol. Sebuah tuntutan masyarakat terhadap ruang publik dan ruh kebudayaan asli Kota Yogyakarta yang kian tergerus oleh kepentingan kapitalisme. Itulah mengapa, judul lagi Jogja Ora Didol kemudian menjadi sangat populer, dan bahkan menjadi slogan sebuah pergerakan moral melawan kapitalisme di Yogyakarta.
Baca Juga
Namun, semangat Jogja Ora Didol ternyata tidak cukup kuat membendung arus kapitalisme di Yogyakarta. Tahun 2015 ini, setidaknya ada lebih dari dua hotel besar berdiri di tengah-tengah Kota Yogyakarta. Padahal, berdasarkan catatan Kantor Bidang Pelayanan Perizinan Kota Yogyakarta, tercatat pada tahun 2013 ketika semangat Jogja Ora Didol mulai menggeliat, ada pengajuan permohonan perizinan pembangunan hotel sebanyak 106. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 pengajuan izin telah disetujui. Dengan demikian, dipastikan jumlah hotel di Kota Yogyakarta akan sedemikian bertambah banyak.
Sementara itu, puluhan baliho dan reklame betebaran di seantero Kota Yogyakarta. Keberadaan baliho dan reklame berukuran raksasa di tempat-tempat strategis seperti Jalan Malioboro, sangat dianggap menganggu panorama. Reklame besar menjadi sampah visual yang sungguh menjauhkan Kota Yogyakarta dari predikatnya sebagai kota budaya dan istimewa. Dengan bertumbuhnya hotel-hotel dan kondotel, mall-maal besar dan reklame,Yogyakarta menjadi kehilangan humanitasnya. Kota swapraja itu bahkan terancam kehilangan kekayaan heritage-nya, akibat begitu banyak pemugaran bangunan lama dan bersejarah.
Sultan HB X selaku Raja Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, telah begitu sering mengimbau kepada seluruh jajaran aparatur pemerintahan di kota Yogyakarta untuk lebih mempertimbangkan aspek sosial dan kebudayaan. Sultan bahkan seringkali menekankan, pentingnya nilai spiritual dan humanisme dalam setiap proses pembangunan dan penataan ruang di dalam kota. Namun, imbauan itu sepertinya senasib dengan lagu Jogja Ora Didol, yang maknanya terus menggema di benak setiap insan berhati lembut, namun tak kuat berdampak mencegah pembangunan Kota Yogyakarta yang terkesan liar, lepas dari semangat pembangunan Kota Yogyakarta sebagai kota heritage, kota seni dan budaya, kota pendidikan dan kota yang ramah dan nyaman, humanis, serta spiritualis. 
RABU, 9 SEPTEMBER 2015
Penulis : Koko Triarko
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...