Kapolda Papua: 3 sampai 4 DNA Korban Trigana Air Dapat Teridentifikasi

JAYAPURA — Pasca jatuhnya pesawat Trigana Air ATR 42 lambung PK-YRN nomor penerbangan IL-257 di Pegunungan Bintang. 27 jenazah telah diidentifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri dan Polda Papua melalui data primer dan sekunder. Sedangkan 27 jenazah yang tengah diidentifikasi melalui DNA korban, 3-4 telah teridentifikasi.
Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan saat dirinya ke Jakarta dan bertemu dengan Kepala Pusat (Kapus) Dokkes Mabes Polri, Brigjen Pol Arthur Tampi, dimana ia mendapatkan informasi bahwa sampai saat ini masih minim sekali DNA untuk dibuktikan dari sel-sel hidup korban yang dibawa dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua, Kota Jayapura ke laboratorium DNA di Jakarta.
“Baru disebut angka antara 3 sampai 4 DNA yang bisa diidentifikasi. Hal tersebut tergantung dari sel-sel para korban, apakah masih hidup atau sama sekali terbakar dan sulit sekali dihidupkan. Itu yang perlu waktu dan perlu kerja keras dari tim DVI Mabes Polri,” kata Waterpauw, Kemarin (09/09/2015).
Ia berharap, keluarga korban tetap bersabar menunggu hasil tes DNA yang tengah dilakukan tim DVI Mabes Polri, dengan harapan sel-sel yang dibawa dan sedang proses identifikasi di Mabes Polri masih hidup, untuk membuktikan DNA yang juga telah diberikan keluarga korban.
“Keluarga inti korban yang tersisa sudah diambil DNA-nya. Antomortem terkait dengan syarat DNA itu sudah diminta dari keluarga masing-masing, sekarang tinggal hasilnya dari sisa kerangka yang ada itu dibawa ke laboratorium DNA Mabes Polri, dengan catatan masih hidup,” ujarnya.
Secara teknis, menurutnya, dapat dilakukan dengan cara menggandakan sejumlah individu yang hasilnya secara genetik sama persis dari sel yang sama. “Bisa di kloning tetapi butuh waktu lama. Teknisnya saya tidak bisa masuk sejauh itu, karena ini hanya sekedar informasi. Keluarga tetap sabar dan terus berdoa, saya pikir pada suatu saat apabila secara maksimal tidak bisa dibuktikan, nanti kami bicara kepada keluarga korban, langkah selanjutnya, apakah kita lakukan penguburan masal dan sebagainya tergantung keluarga korban,” ujarnya.
Disinggung soal temuan tulang-tulang korban yang ditemukan warga, dikatakan mantan Kapolda Papua Barat ini, bahwa tulang-tulang tersebut hanya disatukan saja dan selanjutnya diserahkan ke tim DVI.
“Itulah juga yang dicek sel-selnya, dan sebagian itu hangus terbakar, artinya sel itu tidak hidup lagi. Saya ikuti beberapa hari waktu dikamar operasi, dokter-dokter ahli mengatakan seperti itu,” tutupnya.
Trigana Air ATR 42 lambung PK-YRN nomor penerbangan IL-257 dengan membawa 49 penumpang dan 5 kru pesawat. Diketahui jatuh pada hari Minggu (16/08/2015) pada titik koordinat 04 derajat  49 menit 289 Lintang Selatan, 140 derajat 29 menit 953 Bujur Timur pada ketinggian 8500 feet atau 7 mile dari landasan Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, tepatnya disekitar Distrik Oksop.
Sebelumnya tim DVI Mabes Polri dan Polda Papua telah mengidentifikasi 27 jenasah dari 54 jenasah korban jatuhnya pesawat Trigana Air, melalui proses pengecekan sidik jadi, gigi, serta barang-barang bawaan para korban atau antomortum catatan yang telah dibawa oleh keluarga korban, antara lain:
  1. Terianus Halawala;
  2. Mathius Nicolas Aragae;
  3. La Boni alias Boni Woriori;
  4. Wendepen Bamulki;
  5. Asirum;
  6. Agustinus Lukas Luanmase;
  7. Dita Amilia Kurniawan;
  8. Teguh Warisman Sane;
  9. Emilia Gobay;
  10. Milka  Kakyarmabin;
  11. Oscar Mangonto;
  12. Hasanudin;
  13. Obed Trukna;
  14. Yusran;
  15. Amran;
  16. Egenio Dilam;
  17. Marselino DK. Karubaba;
  18. Esap Aruman;
  19. Jhon Baltazar Gasper;
  20. Ewelin Uropmabin;
  21. Valerin;
  22. Kepi Deal;
  23. Ariain Falani;
  24. Eki Kimki;
  25. Jackson Wayam;
  26. Hosea Uropdana;
  27. Elipas Uropmabin.

KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...