Karapan Sapi Brujul, Perlombaan yang Berawal dari Rutinitas Petani

PROBOLINGGO — Kota Probolinggo memiliki tradisi karapan sapi yang berbeda dengan karapan sapi yang ada di daerah lain. Tradisi ini diberi nama Karapan Sapi Brujul.
Yang membedakan dengan karapan sapi lainnya adalah sapi yang di gunakan adalah yang kesehariannya membajak sawah sedangkan karapan sapi di daerah lain menggunakan sapi merah yang khusus digunakan untuk karapan.
Menurut Panitia karapan sapi, Miari menjelaskan, karapan sapi brujul sudah ada sejak tahun 1999. Namun pada tahun tersebut karapan sapi brujul belum di perlombakan secara resmi seperti sekarang ini.
Menurutnya, Tradisi karapan sapi brujul sendiri berawal dari kebiasaan petani yang selalu membajak sawahnya terlebih dahulu menggunakan sapi sebelum menanam padi. Dari situ kemudian oleh sekelompok petani dikembangkan menjadi sebuah perlombaan karapan sapi brujul antar petani setiap musim tanam padi tiba. Pemenang lomba karapan sapi brujul juga berhak mendapatkan hadiah.
Seiring dengan berjalannya waktu dan makin banyaknya masyarakat yang antusias dengan keberadaan karapan sapi yang satu ini, sehingga terbentuklah paguyuban-paguyuban karapan sapi brujul di kota Probolinggo.
“Kemudian sekitar tahun 2008 karapan sapi brujul mulai dilirik Pemkot Probolinggo yang kemudian di jadikan salah satu lomba yang dipertandingkan dalam acara Seminggu di Probolinggo (Semipro) untuk memperebutkan piala bergilir Walikota hingga saat ini,” jelasnya.
Tidak ada perlakuan atau makanan khusus untuk sapi brujul seperti perlakuan pada sapi merah yang khusus digunakan untuk karapan. Sapi brujul ini setiap harinya digunakan untuk membajak sawah dan hanya setahun sekali digunakan untuk karapan.
“Tujuan diadakannya karapan sapi brujul selain untuk memberikan hiburan kepada masyarakat, juga untuk meningkatkan nilai nominal atau harga jual dari sapi itu sendiri,”ujarnya.

MINGGU, 6 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...