Kasus Dwelling Time, Picu Ketidakpercayaan Para Pelaku Pasar

NASIONAL — Tokoh Golkar, Ariady Ahmad menilai penanganan yang salah dalam kasus dwelling time di pelabuhan Tanjung Priuk justru menimbulkan kegaduhan yang berujung ketidakpercayaan para pelaku pasar akibat standar ganda dalam pemberantasan korupsi. Hal tersebut disampaikannya di Jakarta, Kamis, (10/09/2015).
Mantan Anggota Dewan RI ini mengungkapkan, Upaya pihak Kepolisian untuk memberantas praktek korupsi penyebab kasus dwelling time yang terjadi di PT Pelindo II justru dimentahkan atau membentur tembok kekuasaan. Bahkan berujung pada mutasi besar-besaran di tubuh Polri.
“Ini Semua memperlihatkan bahwa sulit untuk mengelak dari penilaian, bahwa lingkaran istana negara kini telah dikepung para mafia. Bukan cuman mafia pelabuhan, tapi juga mafia pangan, mafia migas, mafia lahan hingga mafia proyek dan lain sebagainya,” Tandasnya
Menurut Ariady, respon pelaku pasar menjadi salah satu indikatornya. Sebab maraknya mafia menjadi ukuran bahwa pemerintah gagal menata perekonomian secara tegas. kekuasaan kini, sudah berkongsi dengan pemburu rente.
Rupiah kita dibiarkan begitu saja, sambung dia, hingga menembus level Rp 14 ribu per USD. Padahal angka paling masuk akal adalah dikisaran Rp 13 ribu.
“Sejumlah aktivis gelisah. Sebagai kelompok yang senantiasa mengikuti gerak dan nafas kehidupan masyarakat. kami terusik dengan lambatnya respon pemerintahan,” ujarnya
Ia mempertanyakan Apakah masyarakat masih mampu menahan himpitan kesulitan ekonomi. Atau Bagaimana jika krisis ekonomi beralih menjadi krisis sosial.
Dalam mencari jalan keluar. Sebanyak 30 aktivis dan tokoh mangadakan pertemuan di Jakarta, diantaranya aktivis senior seperti Bursah Zarnubi, Bambang Wiwoho, Hatta Taliwang, Ariady Achmad, Laode Ida, Djoko Edhy Abdurrachman, Herdi Sahrasad, Marwan Batubara, Ali Mahsun, Abdul Malik, dan Agus Edi Santoso.
“Kami ingin mengurai benang kusut persoalan yang tengah dialami bangsa ini. Setidaknya, untuk ikut berkontribusi positif memberikan solusi atas persoalan NKRI,” tutupnya.
KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Adista Pattisahusiwa
Foto            : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...