Keindahan Hutan Mangrove BeeJay Bakau Resort di Probolinggo

PROBOLINGGO — Selain terkenal dengan wisata gunung Bromo dan Air terjun Madakaripura, Probolinggo rupanya juga memiliki Ekowisata Mangrove berupa wisata hutan bakau dengan nama BeeJay Bakau Resort (BJBR). Ekowisata hutan Bakau ini berlokasi di Pelabuhan PPP Mayangan, Kota Probolinggo.
Untuk dapat menikmati keindahan hutan Bakau secara dekat, pengunjung hanya di kenakan biaya tiket masuk sebesar Rp.10.000,- di tambah Rp. 2.000,- untuk parkir. Pengunjung juga dilarang untuk membawa masuk makanan dari luar karena di takutkan bungkus makanan mereka akan mengotori hutan bakau.
Saat memasuki kawasan hutan bakau, pengunjung akan melintasi jembatan tanpa pagar yang terbuat dari kayu sejauh kurang lebih 700 meter dengan di kelilingi pohon bakau di kanan kirinya. Di lokasi ini juga terdapat cukup banyak spot yang dapat digunakan pengunjung untuk mengabadikan foto mereka.
Menurut Eli salah satu pengunjung mengaku menyukai tempat ini karena keindahan pemandangannya dan banyak spot foto untuk menyalurkan hobi fotografinya seperti pemandangan hutan bakau dan juga lautan, tulisan BJBR serta kapal Jonggrang yang merupakan icon tempat ini.
“Disini juga dilengkapi dengan papan-papan informasi yang menjelaskan jenis-jenis tanaman bakau beserta manfaatnya bagi lingkungan sehingga dapat menambah pengetahuan bagi pengunjung,”jelasnya.
Fasilitas di BJBR bisa dibilang cukup lengkap. Diantaranya sudah tersedianya penginapan berupa bungalow yang berjajar diantara hutan bakau, Rest-O-tent yang merupakan sebuah restoran sari laut dengan beratapkan 4 buah kubah megah, Majengan Bakau Beach yang merupakan pantai pasir putih buatan lengkap dengan berbagai macam permainan air serta lapangan voli pantai bertaraf internasional. Sehingga tidak salah jika BJBR menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika datang ke kota Probolinggo.
BJBR sebelum menjadi tempat ekowisata merupakan hutan bakau yang tidak terurus dengan pemandangan tumpukan sampah dimana-mana yang menyebarkan bau busuk. Sampai dengan tahun 2012 datanglah tiga serangkai yaitu Benjamin Mangitung, Justinus Tan dan Juda Mangitung yang tergerak hatinya untuk menjadikan tempat tersebut sebagai tempat ekowisata yang dapat dinikmati semua golongan masyarakat.

SABTU, 5 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...