Kekeringan, Operator Mesin Pompa Air Kebanjiran Order

Operator Mesin Pompa Air
LAMPUNG — Musim kemarau panjang yang masih melanda sebagian wilayah Indonesia mengakibatkan kesusahan bagi para petani. Namun musim kemarau tidak serta merta membawa kesulitan namun justru bisa menjadikan berkah bagi para pemilik mesin pompa air. Persewaan mesin pompa air menjadi salah satu usaha yang paling dicari saat musim kemarau oleh para petani. Petani sebagian besar mencari usaha penyewaan pompa air untuk mengairi lahan sawah yang kekeringan akibat kemarau. 
Ulman (25) yang merupakan anak dari pemilik mesin pompa, Sutiyono (45) mengaku sejak malam hari hingga siang ini masih menunggu mesin pompa yang dioperasikannya untuk mengairi sawah puluhan petani yang ada di Desa Klaten Kecamatan Penengahan. Ulman mengaku menjaga mesin pompa tersebut yang digunakan untuk menyedot air dari sungai kecil yang jaraknya mencapai sekitar 600 meter dari lokasi sawah yang letaknya lebih tinggi.
“Saya sampai menginap di sini untuk menjaga mesin pompa sebab kalau tak dijaga bisa hilang atau kehabisan bahan bakar, jaganya bergantian dengan ayah saya,”ungkap Ulman kepada Cendana News, Senin (21/9/2015).
Ia mengaku, penyewaan mesin pompa diminati oleh para pemilik lahan sawah karena hanya mengeluarkan biaya yang dikenakan berdasarkan luasan lahan.  Untuk beberapa petak sawah Ulman mengaku mematok harga Rp100 hingga Rp150ribu berdasarkan letak jauh dekatnya sawah dengan lokasi pengambilan air. Uang tersebut dipergunakan untuk jasa menjaga mesin serta pembelian bahan bakar selama proses berlangsung.
“Ini relatif lahan sawahnya cukup jauh maka harus menggunakan selang yang panjang dan disambung sambung agar air bisa sampai ke lokasi sawah yang dialiri,”ungkap Ulman sambil memeriksa kondisi selangnya.
Perhitungan biaya sejumlah itu dilakukan untuk operasional membeli bahan bakar berupa premium. Dalam semalam ia mengaku sudah menghabiskan sekitar 15 liter bensin dan sudah mengairi lahan sawah sekitar beberapa petak. Kunci keberhasilan pengairan menurutnya sang pemilik harus rajin memeriksa lubang lubang di sawah agar air yang mengalir tidak terbuang sia sia.
Meskipun mematok harga sejumlah tersebut namun ia masih memberi kelonggaran kepada petani yang akan menggunakan jasa penyedotan air tersebut. Selain bisa membayar dimuka petani juga diberi kesempatan membayar saat petani sudah panen. Sebab ia tahu kondisi saat ini petani sedang mengalami masa masa kekeringan dan belum memasuki masa panen, namun tetap ada yang memberi uang muka sebagian.
Sebagai pemilik mesin pompa, Ulman dan sang ayah mengaku dalam sepekan bisa mendapat orderan mengairi sawah sebanyak 3-4 kali. Permintaan sebetulnya cukup banyak namun tidak bisa ia penuhi karena keterbatasan alat dan tenaga. Meskipun demikian adanya orderan segera dilimpahkan ke pemilik mesin pompa yang ada di desa lain agar bisa saling membantu.
Mahalnya biaya pembuatan sumur bor menjadikan warga masih memanfaatkan penyewaan mesin pompa yang setelah dikalkulasikan lebih efesien dibandingkan membuat sumur bor yang bisa memakan biya lebih dari 10 juta. Namun karena lokasi yang dekat dengan sungai meski sawah lebih tinggi dari sungai membuat mesin pompa air masih menjadi alternatif pilihan untuk pengairan lahan pertanian. Selain lahan sawah, Ulman mengaku jasa mesin pompa tersebut juga dimanfaatkan untuk pengairan lahan jagung, kelapa sawit dan sayur sayuran.
Sementara itu salah satu petani penyewa mesin pompa, Burhan (34) merasakan sangat terbantu dengan adanya mesin pompa tersebut. Sawah yang kering saat memasuki musim padi berisi bisa tertolong berkat keberadaan mesin pompa air yang disewakan oleh pemilik mesin pompa.
“Setidaknya saat tanaman kami masa masa membutuhkan air bisa terpenuhi dan bisa menyuplai kebutuhan air sehingga bisa bertahan sampai panen,kalau tidak nekat menyewa justru kami akan gagal panen dan rugi,”ungkap Burhan.
Burhan termasuk salah satu petani yang masih bisa berbangga hati bisa menggarap lahan sawah miliknya. Puluhan petani lainnya terpaksa membiarkan lahan sawahnya kering dan tidak ditanami tanaman apapun selama musim kemarau berlangsung.

Pelajar melewati sawah yang kering
SENIN, 21 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...