Keluarga Korban Jatuhnya Crane Diterpa Isu Uang Santunan

YOGYAKARTA — Masih dalam suasana duka akibat tragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, keluarga korban jemaah haji (JH) yang meninggal dunia diresahkan oleh adanya pesan broadcast yang beredar via blackberry messenger. Isi broadcast itu menyatakan jika akan ada santunan terhadap keluarga jemaah haji yang meninggal dalam kecelakaan jatuhnya crane dari Kerajaan Arab Saudi yang besarnya mencapai milyaran rupiah.
Isi pesan itu secara singkat menyatakan, atas perintah Raja Salman Bin Abdil Aziz Hafidzahullah selaku pelayan dua tanah suci (Al Haramain), pemerintah Kerajaan Arab Saudi akan memberikan bantuan kepada para korban meninggal dan terluka dalam peristiwa jatuhnya alat berat crane tanggal 11 Dzulqo’idah 1436 H di Masjidil Haram. Besaran bantuan itu disebutkan untuk keluarga korban meninggal dunia dan cacat seumur hidup sebesar 1.000.000 SR atau setara dengan Rp 3,8 Milyar. Sedangkan untuk korban luka ringan dan berat lainnya sebesar 500.000 SR atau sekitar Rp 1, 9 Milyar.
Kabar mengenai adanya santunan tersebut, ternyata juga beredar melalui sejumlah media asing yang bersumber dari situs Al Madinah. Namun demikian, ternyata kabar itu direspon negatif oleh keluarga korban meninggal dalam kecelakaan maut tersebut. Di Yogyakarta, pesan itu pun diterima oleh keluarga alm. Sriyana Bin Warjo Sihana pada Rabu (16/9/2015) sore ini. Seperti diberitakan sebelumnya, Sriyana warga dusun Belibis, Rewulu Kulon, Sidokarto, Godean, Sleman, Yogyakarta, merupakan korban meninggal dunia dalam kecelakaan jatuhnya crane.
Berkait hal itu, Andra Tris Adi Suswanto (33), kerabat alm. Sriyana membenarkan adanya pesan tentang santunan tersebut. Namun, Andra mewakili keluarga korban sementara ini masih menganggapnya sekedar issu. Andra sendiri mengaku mendapatkan pesan tersebut melalui pesan bbm dari salah seorang kawannya. Terhadap kemungkinan kebenaran adanya uang santunan itu, pun Andra tak menggubrisnya. 
“Kami sudah iklas dengan kepergian ayah kami, dan berapa pun besarnya uang santunan itu tidak akan bisa menebus rasa kehilangan kami”, tegasnya.
Andra juga mengaku belum ada informasi dari dinas terkait seperti Kementerian Agama Kabupaten Sleman tentang akan adanya uang santunan tersebut. Malahan, Andra mengaku agak kecewa, lantaran dalam peristiwa kecelakaan itu begitu susah untuk mendapatkan informasi. 
“Untuk mendapatkan kepastian kabar meninggalnya ayah kami saja susah. Tidak ada informasi dari pihak pemerintah dalam negeri maupun Arab Saudi, kecuali kami sendiri yang aktif menghubungi ketua kloter almarhum”, ungkapnya.
Sementara terkait kabar adanya santunan itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Muhammad Lutfi Hamid, menjelaskan, pihaknya sama sekali belum mengetahui kebenaran kabar tersebut karena sampai hari ini pihaknya juga belum menerima surat resmi perihal santunan itu. 
Menurutnya, jika memang akan ada uang santunan tidak mungkin Raja Arab atau perwakilannya datang langsung ke keluarga korban. 
“Harus ada prosedur yang dilalui. Misalnya, keluarga korban harus membuka rekening, membuat surat pengesahan sebagai ahli waris yang sah dari Pengadilan Agama. Setelah semua prosedurnya lengkap, kami akan memfasilitasi pencairan dana santunan tersebut”, pungkasnya. 

RABU, 16 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...