Kerajinan Fiberglass, Salah Satu Usaha yang Cukup Menjanjikan

MALANG — Usaha kerajinan tangan menggunakan bahan serat kaca atau yang lebih dikenal dengan fiberglass merupakan salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, salah satu pengrajin fiberglass di Kota Malang dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp. 15.000.000,-
Berlokasi di Jalan Satria Barat no.18 kota Malang, terdapat sebuah bangunan yang dibagian depannya terpampang sebuah tulisan “ Divan Art Fiberglass” dan didalamnya terlihat beberapa orang sedang sibuk mengerjakan beberapa patung ikan Koi dan sebuah patung Naga yang terbuat dari fiberglass. Adalah Mochammad Adi Syetiawan (32) pemilik Divan Art Fiberglass yang merupakan salah satu pengrajin fiberglass sukses di Kota Malang.
Adi menceritakan, sebelum dirinya memulai usaha fiberglassnya sendiri, dia bersama dengan 5 orang temannya yang sekarang bekerjasama dengan dirinya sempat bekerja disebuah pabrik fiberglass. Namun pada tahun 2005, di pabrik tempatnya bekerja terpaksa harus “gulung tikar”. 
“ Karena pabriknya bangkrut, akhirnya saya dan teman-teman berpisah untuk mencari pekerjaan lain masing-masing,” ceritanya.
Setelah keluar dari pabrik, dirinya mencoba untuk mencari-cari orderan sendiri dibidang fiberglass yang dikerjakan sendiri di rumahnya hingga berjalan selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga dimana orderan semakin banyak, Adi kemudia mencoba untuk kembali menghubungi ke lima temannya yang dulu pernah sama-sama bekerja di pabrik agar mau ikut bergabung dalam usah kerajinan fiberglass miliknya.
” Karena semakin tahun orderan semakin banyak akhirnya saya menambah dua orang tenaga lagi dari warga sekitar untuk ikut bergabung dan hingga kini totalnya ada 8 orang,” jelasnya.
Laki-laki asli Lamongan ini mengaku mendapatkan keahliannya membuat kerajinan fiberglass selain dari pengalamannya bekerja di pabrik fiberglass, dirinya juga belajar dari salah satu alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang juga bergerak dibidang seni.
Kerajinan fiberglass yang sering saya buat ada berbagai macam diantaranya patung, bak sampah, bak ikan, tangki air dan barang-barang lainnya yang terbuat dari fiberglass. 
“Untuk membuat patung dengan tinggi 1 meter jika belum ada cetakannya akan memakan waktu sekitar satu minggu, tetapi jika sudah ada cetakannya dalam sehari bisa membuat tiga unit patung. Sedangkan untuk membuat bak sampah, dalam sehari bisa membuat 20 unit. Untuk fiberglass, biasanya dibeli dari distributor yang ada di Surabaya yang diimpor dari Taiwan,” imbuhnya.
Untuk pemasarannya, Adi mengaku sembilan puluh persen melalui media online. Adi sudah memasarkan hampir keseluruh daerah di Indonesia termasuk setiap tiga bulan sekali rutin mengirimkan berbagai jenis sovenir ke Jatim Park. Dan kini produk kerajinan fiberglassnya tidak hanya laku di pasaran dalam Negeri, produknya juga kini banyak diminati di negara-negara Asia dan Eropa. 
“ Untuk di Asia seperti Malaysia, Thailand dan Cina saya sering mendapatkan pesanan berupa kaligrafi dan patung-patung Budha sedangkan untuk di Eropa seperti Belanda dan Belgia saya biasa mendapatkan pesanan sovenir berupa miniatur kincir, relief dan tropi,” ucapnya. 
Dirinya juga sering mendapatkan pesanan dari Dinas-dinas terkait yang setiap tahunnya mengadakan pengadaan barang. Kini dia juga sedang mengerjakan maskot durian untuk water park di daerah Tenggarong Kaltim dan patung Naga sepanjang 10 meter untuk di pantai Balaikambang.
Harga produk fiberglassnya juga bervariasi. Untuk sovenir kecil dengan ukuran 5-50 cm harganya sekitar lima ribu Rupiah hingga satu juta Rupiah, sedangkan untuk patung ukuran besar mencapai harga lima puluh juta Rupiah dan untuk bak sampah berkisar lima ratus ribu hingga satu juta enam ratus ribu Rupiah.
Menurut Adi, tingginya nilai tukar Dolar terhadap Rupiah dallam beberapa bulan terakhir sangat mempengaruhi usahanya karena bahan utama fiberglassnya merupakan bahan Impor yang otomatis harganya juga akan ikut naik mengikuti nilai tukar Dolar terhadap Rupiah. 
“Oleh karena itu akhirnya dengan terpaksa mau tidak mau saya juga menaikkan harga produk saya mengikuti kenaikan harga bahan baku,” ujarnya. 
Menurutnya harga bahan fiber mengalami lima ratus Rupiah dari yang awalnya Rp. 29.000,-/kg menjadi Rp. 29.500,-/kg. “Itu baru bahan fibernya, belum harga bahan-bahan lainnya yang juga ikut naik,” jelasnya.
Selain Fiberglass, Adi juga menerima pesanan untuk bahan-bahan dari akrilic, kuningan, logam-logam. Bahkan Adi juga melayani pembuatan canopy dan tralis.

SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...