Kesenian Batombe, Improvisasi Panggung yang Kontroversial

PADANG — Festival Nan Jombang Tanggal 3 (NJT3) selalu menghadirkan kesenian tradisional yang sudah mulai lekang oleh panas dan lapuk oleh hujan. Berbagai kesenian telah tampil di Festival yang sudah memasuki tahun ketiganya tersebut.
Bertempat diruang produksi Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang. Berbagai kesenian dari pelosok Sumatera Barat (Sumbar) dihadirkan. Tak terkecuali kesenian Batombe. Kesenian berbalas pantun yang hanya diadakan dalam acara adat resmi, seperti pernikahan dan acara manggadangkan mamak (Mengangkat penghulu/kepala suku).
Kesenian batombe ini hanya ada di nagari Sitapus, Sangir Batang hari, Kabupaten Solok Selatan. Tradisi ini sudah lama tidak dimainkan, karena kontroversi yang ditimbulkan dari penampilan seni tardisi ini kabarnya mampu membuat suami istri bercerai.
“Sudah dua tahun, tradisi ini tidak dimainkan. Namun karena ada Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata yang memintanya, kami mainkan juga di sini namun yang kami mainkan hanya sepenggal saja, tidak seperti tradisi yang sepenuhnya,” ujar Burhanudin Malin Panito, salah seorang pemain yang sudah melakoni Batombe selama 30 tahun lebih.
Menurutnya, tradisi ini tidak dimainkan karena berbagai alasan. Baik itu kurangnya minat generasi muda. Bahkan pertunjukan ini bisa membuat pasangan suami istri bercerai. Ia mencontohkan sepasang pemain batombe yang bukan suami istri saling berbalas pantun yang merayu, dan didengar oleh suami istrinya yang menyaksikan di bawah panggung bisa merasa dikhianati
“Itu bisa menjadi salah satu penyebabnya. Karena itu biasanya batombe ini hanya dimainkan oleh orang berumur diatas 40 tahun saja agar tidak ada masalah setelah batombe,” ujar Malin Panito.
Batombe ini berasal dari kata “tombe” yang merupakan bahasa asli daerah Sangir yang artinya membalas. Uniknya tradisi ini terlarang dimainkan ditempat umum. Jika dimainkan ditempat umum dan tidak memenuhi persyaratanya. Bisa-bisa para pemainnya kualat dan didenda seekor kambing untuk setiap penghulu dan datuk yang ada di nagari tersebut.
“Jika dimainkan ditempat umum dan tanpa ada restu dari datuk dan penghulu. Maka para pemain bisa termakan sumpah dan harus membayar denda satu ekor kambing untuk satu orang mamak, datuk dan penghulu yang ada di Nagari Sangir. Sebab permainan ini harus memenuhi syarat, dengan membantai seekor sapi dan itu harus dilakukan di rumah gadang setiap suku” pungkas Malin Panito.
Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Malin Panito, pemain batombe perempuan, Masnidar mengisahkan tentang pemain batombe yang akhirnya bercerai dengan istrinya.
“Dulu ada seorang pemain batombe yang bercerai dengan istrinya. Karena jarak ladang dengan rumahnya memakan waktu perjalan berhari-hari, ia tidak pulang. Sementara istrinya tengah beranak kecil, ia terus mengikuti dimanapun acara batombe. Di dalam acara batombe, yang mewajibkan setiap pemain saling berbalas pantun. Maka ia dan pemain batombe lainnya berbalas pantun hingga sangat akrab pantun mereka. Dan batombe itu disaksikan oleh keluarga istrinya. Hingga akhirnya ia bercerai,” kisah Masnidar.
Namun untuk pementasan di NTJ3, mereka sengaja tidak menampilkan batombe yang sesungguhnya. Dengan alasan tidak sesuai dengan adat dan tradisi mereka. Sehingga apa yang ditampilkan hanyalah pertunjukan sekedarnya. Meski pertunjukan itu disaksikan dan didengarkan oleh ratusan pasang mata.
“Kami malu, dan tidak sesuai dengan adat serta kebiasaan kami di nagari, sebab kalau batombe yang sejatinya menggunakan pantun tikam jajak. Sedangkan penampilan yang tadi tidak ada yang memakai pantun tikam jajak,” jelas Masnidar.
Pantun tikam jajak ini dipercaya memiliki kekuatan magis, sehingga mereka yang mendengarnya dan orang yang dituju oleh pantun ini bisa mabuk kepayang kepada yang membacakan pantun. Pertunjukan ini sejatinya harus memakai gendang, rabab (Alat musik serupa biola namun dengan nada yang berbeda), dan giriang-giriang.
Menurut pengakuan semua pemain batombe, kesenian ini tidak bisa diajar secara turun temurun, namun merupakan kecerdasan individu dalam mengolah kata menjadi pantun. Kecuali pantun tikam jajak yang menurut mereka memang harus dipelajari secara magis kepada guru masing-masing.
“Tidak ada diajarkan, sejak saya bermain tombe hanya pantun tikam jajak saja yang diajarkan oleh guru. Selebihnya kepandaian masing-masing saja mengolah pantun. Aturannya, setiap ujung pantun yang dilontarkan lawan, harus dibalas dengan awal pantun yang sama. Sehingga pantunnya bertali-tali dan enak didengar penonton,” pungkas Malin Panito.


SABTU, 5 September 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...