Kesumat Diujung Malam

Ilustrasi
CERPEN — Kobaran api memerah.  Kepulan asapnya membubung ke angkasa. Seakan hendak mengejar awan. Lidah api masih mengibas dan terus membakar. Siraman air dari beberapa orang yang membantu tak mampu redakan lidah api yang masih terus menjilat bangunan. Teriakan tolong bak koor dari para Ibu-ibu dan kaum perempuan tak mampu meredakan jilatan lidah api yang terus membara. Dan hanya dalam waktu yang singkat bangunan milik orang terkemuka di Desa itu rata dengan tanah. Padahal bangunan itu akan dipakai untuk perhelatan ijab kabul putri pemilik gedung besok pagi.
Rusmin
Dikejauhan, senyum kemenangan mengembang dari bibir seorang lelaki muda. Sambil menjauh dari lokasi api, langkahnya pasti seakan-akan menyiratkan sebuah kemenangan besar malam ini. Senyum purnama malam pun kalah benderangnya dengan senyum yang terus dikibarkannya. Siulan dari sebuah lagu dari bibir tipisnya menandakan bahwa dirinya adalah seorang pemenang. Ya, Seorang pemenang.
Setidaknya sudah hampir dua puluh satu tahun dirinya memendam amarah yang amat luarbiasa yang menjalar dari ujung rambut hingga kaki. Setidaknya malam ini kesumat itu terbalaskan walaupun dengan cara-cara yang biadab.
Nasehat dari sang Ibu tak mampu redakan dendam yang membara dalam raganya.
” Walaupun Tuan Ali tidak mengakuimu sebagai anaknya, tapi kamu adalah darah dagingnya. Buat apa kamu membenci lelaki itu,” ungkap Ibunya. Lelaki muda yang bernama Kodir hanya diam membisu. Tak sepatah kata pun meluncur dari mulutnya. Hanya tatapan matanya yang menandakan sebuah perlawanan.
Dan Kodir tahu, nasehat itu selalu didengarnya sejak dia masih dalam kandungan hingga kini beranjak dewasa. Namun kesumat yang dialaminya selama dua puluh satu tahun ini tak mampu diredakan kalimat bijak sang Ibu.
” Ibu tahu bagaimana lelaki tua itu telah mempermalukan kita. Telah merendahkan martabat Ibu sebagai perempuan. Dasar lelaki dak nabat,” ujarnya.
” Lelaki itu tak salah Nak. Ibu yang salah. Dan apapun yang telah terjadi dia adalah bapakmu. Lelaki itu adalah bapakmu. Dan semua orang Kampung tahu,” ungkap Ibunya.
Wanita setengah baya itu seolah teringat dengan kejadian dua puluh tahun yang silam, dimana sebagai seorang kembang Desa, dia harus menerima kenyataan tentang hidup. Lelaki yang bernama Ali itu adalah seorang kepala Kampung dan berkuasa. Hartanya melimpah. Tanahnya luas membentang dari ujung Desa hingga perbatasan dengan Desa sebelah. Dan sebagai wanita dia merasakan getaran cinta saat ditatap Ali yang berwajah flamboyan itu. Wanita mana yang tak tergetar saat ditatap matanya oleh ali yang rupawan dan berkuasa pula.
Wanita setengah baya itu masih ingat ketika suatu pagi saat hendak berangkat ke sawah, dia dibonceng oleh Ali hingga ke tempat kerjanya. Dan wanita itu kembali terkaget-kaget saat pada suatu malam, Ali datang ke rumahnya untuk berkenalaan dengan keluarganya yang tergolong bukan dari kalangan berada.
Wanita setengah baya itu masih ingat ketika dirinya tak mampu menahan gejolak mudanya ketika pada suatu malam di dangau sawah dengan diterangi rembulan dan sinar purnama yang indah diselingi desis angin yang mendesah, dirinya tak mampu menahan diksi manis yang dinarasikan Ali yang membuatnya tak mampu menjaga martabat dirinya sebagai perempuan. Dirinya amat menyesal tak mampu melawan godaan malam.
” Aku akan bertanggungjawab. Aku akan menikahimu. Dan aku akan datang melamarmu,” ungkap Ali usai malam jahanam itu. Rembulan pun tersenyum mendengar narasi Ali.
Rencana tinggal rencana. Keputusan Ali untuk menikahi dirinya bukan hanya mendapat penolakan dari keluarga Ali, namun ditolak oleh para sesepuh Desa. Bahkan secara diam-diam, keluarga Ali beberapakali menawarkan paket menarik untuk dirinya bila mau menggugurkan kandungannya. Namun wanita itu tetap kukuh pada komitmennya untuk membesarkan anak dalam kandungannya.
” Apapun yang kalian tawarkan takkan mampu melawan tekad saya untuk mengurus darah daging saya,” teriak wanita itu. Dan keluarga Ali pun mundur teratur.
Kodir tahu dan sangat paham resiko yang dia lakukan malam ini. Setidaknya semua mata akan menunjuk dirinya sebagai pelaku. Dan Kodir sangat yakin saat ini di rumahnya, diujung Desa ratusan orang bahkan puluhan aparat kini sedang mencarinya. Namun lelaki muda itu tak gentar. Setidaknya dendamnya selama ini telah tertuntaskan walaupun dia harus meninggalkan Desa yang telah membuatnya tampil berani sebagai lelaki dewasa dalam mewujudkan ambisinya sebagai pendendam. Ya, dendam terhadap lelaki tua bernama Ali yang telah membuangnya dalam percaturan hidup. lelaki yang telah membuatnya tak bermartabat sebagai manusia.
Diujung Desa, sisa-sisa kebakaran masih terasa. Baunya masih menghangat. Sehangat jiwa Kodir yang terus berjalan menyusuri jalanan kecil di rimba Desa menuju tempat barunya untuk kehidupan barunya sebagai manusia baru yang bermartabat. 
JUMAT, 4 September 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Foto            : Koleksi CND
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...