Ketua BEM UHO : Indonesia Sudah Punya Pancasila, Tidak Butuh Ideologi Lain.

CATATAN JURNALIS — Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi telah dibubarkan pada tahun 1966 melalui TAP MPRS RI No. XXV/MPRS/1966, namun apakah benar PKI telah benar-benar mati atau sekedar mati suri? Kenyataan yang tidak bisa ditutupi, PKI masih tetap ada dalam keadaan hidup dan siap melakukan cuci otak bahkan secara terang-terangan mereka berani mengkampanyekan kebangkitan PKI di depan publik. 

Cendana News berkesempatan berbincang dengan Munansar, Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara. Bermula dari respon Munansar tentang Tari Kolosal karya Prof. Usman Rianse, Rektor Universitas Halu Oleo (Baca Berita : Tari Kolosal Karya Rektor Universitas Haluoleo Kendari).

Menurut Ansar, demikian ia biasa dipanggil, tarian tersebut menggambarkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan. Berbicara persatuan, menurut mahasiswa fakultas Teknik Sipil ini, adalah sesuatu yang sudah seharusnya jadi sebuah kebutuhan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kita satu maka kita kuat, kita kuat maka kita satu. Pepatah sederhana yang sering kita dengar dan baca sejak sekolah tingkat dasar adalah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” jelas Ansar.

Perihal menjaga persatuan, ia menambahkan bahwa dibutuhkan kesadaran dan kebersamaan kaum intelektual untuk berperan dalam menjaga keutuhan bangsa dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat dengan ideologi Pancasila. “Tidak ada yang bisa kita lakukan jika sendiri, harus bergotong royong, membangun kesadaran untuk  memaknai dan mengamalkan Pancasila,”

Dalam sila ketiga Pancasila jelas disebutkan Persatuan Indonesia, itu artinya, persatuan itu merupakan sesuatu yang mutlak dibutuhkan oleh bangsa Indonesia untuk menghadapi segala permasalahan, salah satunya adalah masalah munculnya ideologi komunis.

Ia menambahkan, ada kemungkinan ideologi “kiri” ini masuk ke kampus karena dalam kampus banyak organisasi yang bisa dimasuki oleh neo PKI dengan berbagai cara, memanfaatkan kelemahan mahasiswa, dengan atau tanpa disadari.

“Mengenai hal ini, kami sudah analisa bersama kawan-kawan mahasiswa bahwa kemunculan neo PKI di Indonesia bukan hal mustahil sebab mereka pun sudah berani tampil terang-terangan,” lanjutnya.

Menyikapi hal itu, ia mengatakan bahwa penguatan ideologi Pancasila dikalangan mahasiswa atau anak muda mutlak dibutuhkan. Pancasila sebagai ideologi bangsa mengandung nilai-nilai dan gagasan dasar yang dapat dilihat dalam sikap, perilaku, dan kepribadian bangsa. Kemudian Pancasila sebagai ideologi bersifat khas, sebagai refleksi perilaku bangsa Indonesia dan tercermin dalam setiap segi kehidupannya. Pancasila sebagai ideologi bangsa memiliki perbedaan dengan sistem kapitalisme-liberal maupun sosialisme-komunis.

Bagi mahasiswa asal Pulau Muna ini, kebangkitan komunis adalah hal mutlak untuk ditolak. Salah satu cara ideal untuk menolaknya adalah dengan membekali para mahasiswa dan kaum muda tentang ideologi Pancasila. Salah satu yang ia lakukan bersama dengan Lisuma (Lingkar Studi Mahasiswa) Kendari dan Lingkar Studi Pancasila adalah membangun wawasan kebangsaan di kalangan mahasiswa khususnya dan anak muda pada umumnya.

Mengutip apa yang disampaikan dalam diskusi yang secara rutin dilakukan oleh Lisuma Kendari dan Lingkar Studi Pancasila Sulawesi Tenggara bahwa Pancasila mengakui dan melindungi baik hak-hak individu maupun hak masyarakat baik di bidang ekonomi maupun politik. Dengan demikian ideologi kita mengakui secara selaras baik kolektivisme maupun individualisme. Maka, satu-satunya cara menangkal bangkitnya paham Komunis di Indonesia adalah dengan memahami dan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari hari. Tidak bisa ditawar lagi.

Selain ancaman lahirnya kembali ideologi Komunis, ancaman lain adalah masuknya ideologi diluar Komunis yang tak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. “Indonesia sudah memiliki Pancasila. Indonesia tidak butuh ideologi Komunis. Indonesia juga tidak butuh gerakan yang berbasis agama karena Indonesia berdiri dari berbagai agama, suku dan budaya,” lanjut Ansar.

Menurutnya, sebagai mahasiswa ia bersama mahasiswa lain memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan tentang pentingnya memahami dan mengamalkan Pancasila oleh semua lapisan masyarakat demi menjaga kedaulatan bangsa dan melanjutkan pembangunan, terlebih sebentar lagi Indonesia menghadapi momentum pasar bebas, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Salah satu yang harus diwaspadai oleh kaum muda dalam menghadapi MEA adalah semakin bebasnya ideologi Komunis atau ideologi lainnya masuk ke Indonesia hingga ke pelosok desa, “Kita tidak bisa sendiri menangkalnya, kita harus bersatu padu, bahu membahu melakukannya, karena mempertahankan Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah mutlak harus dilakukan.” pungkasnya.

SENIN, 31 AGUSTUS 2015
Jurnalis : Sari Puspita Ayu
Foto : Munansar
Editor : Gani Khair

Suasana diskusi tentang wawasan kebangsaan yang diselenggarakan oleh
Lingkar Studi Mahasiswa Kendari dan Lingkar Studi Pancasila Sulawesi Tenggara 

Lihat juga...