Keunikan dan Permasalahan di Taman Wisata Martha Tiahahu

Taman wisata Martha Tiahanu

JAKARTA — Martha Christina Tiahahu, tokoh pejuang wanita asal Ambon yang turut angkat senjata melawan kolonial Belanda dalam Perang Pattimura di tahun 1817. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di usia 17 tahun di atas kapal perang eversten milik Belanda di laut Banda.
Di Ambon dan tanah kelahirannya di Abubu,  patung Martha Christina Tiahahu berdiri megah sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Namun di Ibukota Negara, tepatnya di depan terminal Blok M Jakarta Selatan, namanya diabadikan untuk sebuah taman wisata yang unik bernama, Taman Wisata Martha Tiahahu.
Keunikan Taman ini adalah memiliki tempat sampah berbentuk buah dan hewan lucu. Tempat sampah berbentuk buah tomat dan apel serta bentuk hewan lucu penguin, kodok,  dan panda dapat ditemui sejak pintu masuk taman dan disetiap sudut bahkan di tengah taman juga ada.
Pengurus Taman bernama Michael Hendrikus Satimo, atau akrab di sapa Satimo menjelaskan sedikit tentang Taman Wisata Martha Tiahahu. Menurutnya,  taman ini adalah milik Pemprov DKI, dan sepenuhnya tanggungjawab Pemprov untuk biaya perawatan serta konsep taman.
” Banyak yang bilang taman ini bernuansa remaja karena punya tempat sampah unik,  patung hewan-hewan lucu seperti gajah, kijang, dan dinosaurus, bunga beraneka warna, serta kandang ayam bangkok betina. Nuansa taman ini adalah refleksi Martha Tiahahu yang berusia remaja, ” terang Satimo,  pria paruh baya yang memiliki pengalaman landscaping nya sejak awal kariernya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Tempat sampah lucu di seluruh areal taman juga dimaksudkan merangsang para pengunjung untuk senantiasa membuang sampah kedalam tempat sampah tersebut,  bukannya membuang sampah sembarangan di dalam area taman wisata Martha Tiahahu. 
” Sejauh ini pengunjung sudah teredukasi, kami pengelola taman gembira karena mereka sadar akan kebersihan dengan membuang sampah kedalam tempat sampah,” lanjut Satimo lagi.
Namun satu hal yang membuat Satimo agak gundah adalah,  biaya perawatan tidak pernah kunjung turun,  padahal tanaman di dalam taman ini membutuhkan biaya perawatan.
” Selama ini saya dan rekan yang mencari bibit,  lalu kita perbanyak sendiri dengan system cangkok atau stek. Contoh lain rumput taman sudah banyak tercabut atau mati,  maka kami sendiri yang mencari bibit, memperbanyaknya, lalu menanamnya kembali,” keluh Satimo terus melanjutkan pembicaraan dengan Cendana News.
Satimo sempat membandingkan disaat ia masih didalam team lanscaping TMII di era Presiden Soeharto, bahwa beliau sangat perduli akan tanaman-tanaman didalam taman beserta para petani rumput dan bibit pohon yang biasa memasok kedalam TMII.
” Karena kepedulian Pak Harto tersebut maka kami semua sungkan jika melihat rumput serta tanaman rusak tak terawat. Kami inisiatif mengganti atau merawatnya tanpa menunggu perintah. Akan tetapi sekarang sudah berbeda. Dan kenapa saya serta rekan masih berinisiatif, itu sebagai wujud tanggungjawab pekerjaan kami saja. Namun Pemprov sejauh ini belum menunjukkan tanggungjawabnya dalam bentuk dana perawatan taman,” ungkap Satimo.
Sepertinya tidak perlu belajar dari seorang Michael Hendrikus Satimo untuk menjadi orang yang bertanggungjawab. Yang harus dilakukan hanyalah bagaimana menjalankan semua pekerjaan sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika memang ada dana perawatan,  maka berikanlah. Jika tidak ada dana untuk perawatan maka informasikanlah agar tidak menjadi pertanyaan bagi orang lain.
Harapan Satimo kedepannya adalah, Taman Wisata Martha Tiahahu semakin jadi tempat favorit warga untuk sekedar berkunjung atau piknik. Karena suasana rindang, nyaman, serta tenang sangatlah memenuhi syarat sebagai tempat bercengkerama dengan keluarga.
Tempat sampah

JUMAT, 25 September 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...