KH Hasyim Muzadi: Kepemimpinan Pak Harto Perlu Kita Teladani

KH. Hasyim Muzadi saat menghadiri Haul Bu Tien
SURAKARTA — KH Hasyim Muzadi, salah satu tokoh besar PBNU ketika menghadiri haul Ibu Tien Soeharto di Komplek Makam HM Soeharto, Astana Giri Bangun, Matesih, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah menyebutkan, kepemimpinan Pak Harto perlu diteladani.
“Kepemimpinan Pak Harto perlu kita teladani, yaitu pembangunan, stabilitas, dan tingkat hidup masyarakatnya lumayan,”sebutnya.
Kalau saja orang itu mengerti keadaan sebelum Pak Harto, ujar KH Hasyim lagi, bahwa sebelum itu negara ini bisa perang. Tapi, Pak Harto bisa mencegahnya. 
“Ini yang banyak orang tidak tahu atau tidak mau tahu, dan hanya tahu bahwa ada kekerasan, tanpa mau tahu penyebab sebenarnya. Bagaimana pun, Pak Harto mampu menjaga stabilitas dan menjalankan pembangunan, sekalipun belum optimal, karena dalam satu periode kepemipinan tidak mungkin bisa menyelasaikan semuanya. Inilah mengapa perlu kesinambungan untuk membereskan semuanya. Bukan menjelek-jelekkan yang lama dan yang baru akan dijelekkan oleh yang lebih baru lagi,”ungkapnya.
KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, Negara ini masih belum dewasa. Setiap pergantian pemimpin selalu meninggalkan luka. Pemimpin baru menjelek-jelekkan pemimpin yang lama, dan yang lama menjelek-jelekkan yang lebih lama lagi. Hal itu berdampak kepada buruknya perkembangan budaya bangsa, dan menyebabkan negara ini sulit bangkit dari keterpurukannya. 
Dikatakan, sesuai perintah agama, bahwa orang yang sudah wafat itu tidak boleh dibilang keburukannya. Seperti Sabda Rosul, katanya, sampaikanlah yang baik-baik terhadap mereka yang sudah kembali ke alam barzah. 
“Karena itu, sudah semestinya kita harus melihat yang baiknya saja dan mendoakan agar dosa-dosanya diampuni”, ujarnya.
Namun demikian, sambung KH Hasyim, terhadap sesama manusia memang juga harus diperhitungkan. Antara lain, minta maaf, juga kalau ada yang bersangkutan dengan tanggung-jawab harta benda harus diselesaikan. 
“Saya berharap, bahwa penerusnya ini bisa berjuang. Dan, saya ingin pula bahwa setiap pergantian kepala negara itu supaya tidak meninggalkan luka”, katanya.
Sekarang ini, lanjutnya, selalu pemimpin yang baru menjelek-jelekkan pemimpin yang lama. Lalu, yang lama juga menjelek-jelekkan yang lebih lama lagi. Dan, yang baru pun akan dijelekkan oleh yang lebih baru lagi.
 “Hal demikan, saya pikir tidak baik. Maka, tidak usah ada penyebutan orde lama, orde baru, reformasi, yang ada Orde Indonesia. Coba lihat negara maju, di sana pun satu presiden dengan presiden yang lain bertentangan. Tapi, tidak ada cerita pemimpin baru menghujat pemimpin yang lama. Nah, budaya menjelek-jelekkan pemimpin yang lama di negara kita ini yang berdampak buruk terhadap kemajuan negara. Kita harus menuju ke kedewasaan bangsa. Apalagi sekarang era demokrasi”, tegasnya. 
KH. Hasyim Muzadi (tengah)
JUMAT, 25 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...