Krisis Ekonomi, Pedagang Batik Pasar Beringharjo Yogyakarta Terpuruk

YOGYAKARTA — Terus memburuknya kondisi ekonomi nasional, saat ini, menyusahkan bagi para pedagang kecil dan pelaku usaha lainnya di Yogyakarta. Di Pasar Beringharjo, sejumlah pedagang batik mengaku hanya bisa pasrah dengan sepinya pembeli yang dari hari ke hari semakin dirasa kian akut.
Rohadi (47), pedagang aneka baju batik di Los 13 Pasar Beringharjo, ditemui Senin (21/09/2015) sore, tampak lesu. Kelesuannya semakin bertambah, manakala ditanya perihal omsetnya hari ini. 
“Dari pagi sampai sore ini dagangan saya baru laku dua potong, Mas”, ujarnya, lirih.
Dikatakan Rohadi, selama dua bulan ini, omset penjualan baju batik di Pasar Beringharjo mengalami penurunan signifikan. Terus menurunnya omset penjualan itu bahkan kini hampir mencapai lebih dari 30 persen. 
“Penurunan itu terus berlangsung sampai hari ini”, tegas Rohadi.
Sebagai pedagang yang mulai membuka usaha baju batik di Pasar Beringharjo sejak tahun 1996, Rohadi merasa heran dengan keadaan perekonomian sekarang. Menurutnya, penurunan omset penjulan itu bahkan sebenarnya sudah terjadi sejak dua tahun terakhir ini. Sebagai pedagang kecil, katanya, penurunan omset yang terjadi terus-menerus selama hampir dua tahun ini membuatnya cukup kelimpungan. 
“Dengan kondisi ekonomi sekarang ini, modal kita pun lama-lama bisa habis untuk menutup kerugian akibat sepinya pembeli”, katanya.
Diungkapkannya lagi, sebelum ekonomi memburuk seperti sekarang, omset penjualan baju batiknya dalam kondisi ramai mampu mencapai Rp 1-1,5 Juta perhari. Sekarang, katanya, untuk mencapai penjualan sebesar Rp 500 Ribu saja susahnya bukan main. 
“Padahal, omset sebesar itu juga belum menutupi biaya sehari-hari”, cetusnya.
Sementara itu berkait terus merosotnya omset penjualan baju batik, Rohadi tak hanya mengkaitkannya dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, penurunan nilai rupiah itu hanya satu faktor saja. Lebih dari itu, katanya, lesunya kondisi pasar sangat mungkin disebabkan oleh buruknya perekonomian negara sekarang ini. 
“Sebab, bukan hanya kami saja yang mengalami penurunan omset. Pedagang lain pun juga mengalami”, simpulnya.
Dengan kondisi tersebut, Rohadi sebagai pedagang di pasar mengaku hanya bisa pasrah menunggu nasib. Tidak ada upaya yang bisa dilakukan, kecuali hanya menunggu keadaan ekonomi kembali membaik. Untuk menambal kekurangan biaya sehari-hari, Rohadi pun terpaksa berbisnis sampingan dengan makelaran mobil. 
Rohadi sehari-hari membuka kios baju batiknya dari sejak pagi hingga sore. Baju batik yang dijualnya kebanyakan berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Adapun batik asli Yogyakarta hanya disediakan ketika ada pesanan. Produk batik dari Yogyakarta, katanya, lebih sering untuk pesanan khusus seperti sprei dan jarik. Sedangkan untuk baju dengan beragam model lebih banyak ragamnya dari Pekalongan. Baik itu batik tulis maupun batik cap.
Rohadi yang sempat mengalami masa jaya bisnis baju batik pada tahun 1998-2007, berharap agar pemerintah segera bisa merubah keadaan. 
“Kalau terus-menerus begini, modal saya bisa habis buat bayar angsuran Bank dan dagangan”, pungkasnya. 

SENIN, 21 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...