Kronologis penculikan 2 WNI oleh Kelompok Bersenjata di Papua Nugini

Dirman saat berikan kesaksian kepada Gubernur Papua di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Jayapura
JAYAPURA — Ditangkap saat kerja, sempat melarikan diri, akhirnya tertangkap lagi dan disiksa oleh kelompok bersenjata. Inilah pengakuan dua korban yang diculik kelompok bersenjata saat menebang kayu di hutan Skopro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, Rabu (09/09/2015) lalu dan berhasil dibebaskan Kamis (17/09/2015).
Salah satu korban penculikan, Dirman (28) mengungkapkan, saat dirinya dilokasi kerja Rabu pagi sekitar jam tujuh lewat, jarak antara dirinya dengan Kuba sekitar puluhan meter. Saat itu, tiba-tiba dirinya ditangkap orang tak dikenal berjumlah 3 orang dengan membawa senjata api laras panjang. Menurutnya, kelompok yang tangkap mereka berjumlah 7 orang.
“Saat itu saya dan Badar dijaga 3 orang, dan 4 orang lainnya menuju mesin senso milik Kuba. Saat 4 orang itu kearah suara senso itu, saya dengar bunyi tembakan dua kali berturut-turut,” ungkap Dirman di ruang Cenderawasih 3, Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua, Kotaraja, Kota Jayapura, Sabtu (19/09/2015).
Dalam hati ia perkirakan Kuba atau kakaknya bernama Yani yang tertembak, selanjutnya tanpa berpikir panjang dirinya bersama Badar dibawa melakukan perjalanan kedalam hutan oleh 3 orang dari kelompok tersebut.
“Setengah jam setelah itu, kami jalan menuju hutan rimba. Saya dengar bunyi tembakan satu kali lagi,” ujarnya.
Ia mengaku dibawa kedalam hutan hingga ke salah satu kampung wilayah PNG dari pagi jam 09.00 WIT sampai jam 20.00 WIT dalam keadaan tangan keduanya diikat kebelakang menggunakan tali rotan dengan menempuh jarak yang sangat jauh, dan tanpa henti naik turun bukit serta gunung.
“Kalau diperjalanan kami menggunakan bahasa daerah, kami ditegur terus ditanya, kalian orang Buton ka? Saya bilang iya, terus mereka bilang kalian jangan pake bahasa, nanti saya tembak. Makanya kami kalau selalu berbisik-bisik pakai bahasa indonesia, mereka berbicara pake bahasa fiji dan bahasa daerah seperti bahasa wamena,” tuturnya.
Ciri-ciri individu penculik mereka berdua, dikatakannya, kelompok itu hampir semuanya mengikat kepalanya dengan sebuah kain dan wajah yang dicoret berwarna hitam arang.
“Ada yang pakai baju ikat dikepala, terus mukanya ada coretan warna hitam di jidad, pipi dan hidung,” dijelaskan Dirman.
Selama diculik, dirinya mengakui telah berpindah-pindah lokasi sebanyak 3 kali, tapi dikatakan Dirman, dirinya berpindah bersama kelompok itu sebanyak 3 kali, sedangkan rekannya Badar hanya 2 kali, karena mereka berdua sempat melarikan diri saat berada di gunung Victoria, Skouwtiau, Distrik Bewani, Provinsi Sandaun, PNG. Sayangnya, ia tertangkap ulang oleh kelompok tersebut, lantaran menemui tebing yang curam sedalam 30 meter dan akhirnya dia terpaksa rela ditangkap lagi.
“Saya dan Badar sempat kabur, tapi saya ditangkap duluan, saat saya terpojok ditebing, dalamnya sekitar 30 meter, kalau lompat pasti mati, akhirnya kembali, waktu kembali ada laki-laki dia tarik Jubi atau panah, senjata tradisional pegunungan tengah Papua, saya alasan bilang ambil daun gatal. Kalau Badar dia tidak bisa keluar gunung, hanya terputar-putar saja digunung itu,” ungkapnya.
Rekannya Badar berhasil lolos agak lama, tapi tetap juga berhasil ditangkap lagi kelompok bersenjata tersebut. Menurut pengakuan Badar, saat dirinya kabur, tidak dapat keluar dari gunung itu. “Saya ditangkap kembali, di kali gunung itu,” kata Badar yang memotong pembicaraan Dirman kepada sejumlah media dihadapan Kapolda, Danrem 172/PWY dan Gubernur Papua.
Setiap berpindah-pindah lokasi, masih kata Dirman, ia dan Badar bersama kelompok bersenjata tersebut membuat kamp sementara. Sekitar pukul 14.00 WIT di hari ke 4 atau 5, ia mendengar suara helikopter di gunung Victoria. Sempat, dirinya memberikan tanda ke helikopter dengan memutar sarung keatas udara, sayangnya tidak dilihat kelompok tersebut.
“Kalau malam pertama ditahan, kita di Honai, malam kedua dikamp yang kami buat bersama. Waktu saya dengar ada helikopter, saya putar-putar sarung saya, supaya dilihat tentara PNG. Tapi ada satu orang kelompok itu lihat saya, terus saya disuruh masuk dan orang itu bilang, jangan keluar-keluar, nanti tentara PNG tembak kamu. Terus sekitar pukul 15.00 WIT, saya lihat helikopter itu beberapa kali mendarat dan terbang dari kali Bewani, PNG,” katanya.
Sementara, Badar (26) yang juga sebagai korban penculikan mengaku disiksa saat dalam pengawasan ketat kelompok bersenjata di gunung Victoria. 
“Saya disuruh merayap ditanah, disuruh mengaku Papua Merdeka, ditendang, dipukul dengan sejata ke perut, senjata mereka ada 6 pucuk, ada juga panah, parang, mereka tidak sebut nama orang atau kelompok mereka,” ungkap Badar.
Selama Badar dan Dirman berada dibawah kekuasaan kelompok bersenjata, dikatakan Badar, mereka diberi makan ubi jalar (Petatas) yang direbus atau dibakar.  “Kami diberi makan petatas, direbus dan dibakar,” ujarnya.
Sebelumnya, diketahui kelompok bersenjata menyerahkan dua WNI digunung Victoria, Skouwtiau, Distrik Bewani, Provinsi Sandaun, PNG, Kamis (17/09/2015) malam sekitar pukul 09.35 waktu Papua New Guinea (PNG) menyerahkan dua sandera tersebut ke tentara PNG. Selanjutnya, pada hari Jumat (18/09/2015) Konsul RI untuk Vanimo, PNG menyerahkan ke Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Hinsa Siburian yang juga sebagai Panglima Operasi di Skouw, Kota Jayapura, perbatasan RI-PNG.
Badar (kiri) dan Dirman (kanan)

Rekan dua korban penculikan, Kuba dalam satu ruang di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Jayapura

RS Bhayangkara Polda Papua, Kotaraja, Kota Jayapura
MINGGU, 20 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...