Kurang Perhatian Pemerintah, Peneliti Indonesia Sulit Berkembang

YOGYAKARTA — Menghadapi kemajuan zaman yang terus berkembang, Indonesia tidak bisa terus mengandalkan Sumber Daya Alam (SDA) yang suatu saat akan menyusut jumlahnya. Karena itu, pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahun menjadi penting untuk ditingkatkan. Sayangnya, jumlah peneliti di tanah air sangat minim. Bahkan, kurang dihargai, sehingga lebih senang berkarya di negara lain.  
Minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang penelitian ilmu pengetahuan di Indonesia, terungkap dalam konferensi ilmiah International Asian Association of Learning, Innovation and Co-evolution Studies (ASIALICS) yang diadakan selama dua hari sejak kemarin hingga hari ini Rabu (16/9/2015) di Yogyakarta. 
Untuk memajukan suatu negara dibutuhkan riset yang memadai. Karena itu, Konferensi ASIALICS digelar dengan melibatkan para pakar, peneliti, akademisi dan pengambil kebijakan sebagai upaya menggali dan mengembangkan konsep inovasi dan studi koevolusian, serta mendorong adanya strategi-strategi baru di bidang pembangunan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan di kawasan Asia.
Sayangnya, jumlah peneliti di tanah air masih sangat minim dan kurang dihargai. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain, mengungkap perbandingan peneliti di Indonesia adalah 30 banding 1 juta penduduk. Artinya, dari satu juta penduduk hanya ada 30 orang peneliti. Padahal, di negara lain seperti Malaysia, perbandingannya 600 banding 1 juta. 
“Di Israel, perbandingannya bahkan 1.000 per 1 Juta orang,” tegasnya.
Hal senada diungkapkan pula oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek, Muhammad Dimyati, yang hadir dalam konferensi tersebut mewakili Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi RI. Menurutnya, di Indonesia ini pekerjaan artis lebih dihargai dibandingkan para peneliti. 
“Artis tampil satu jam bisa dibayar sampai ratusan juta rupiah. Sedangkan, peneliti hanya dibayar sekitar Rp 1-2 Juta, itu pun selevel profesor. Padahal, hasil penelitian sangat penting untuk kemajuan bangsa ini,” tandas Dimyati.
Kurangnya penghargaan terhadap para peneliti, menurut Dimyati, menyebabkan banyak peneliti Indonesia pindah ke negara lain dan berkarya menghasilkan penelitian yang memajukan negara lain. 
Sementara itu ketua penyelenggara konferensi, Siti Nurmaliati menambahkan, jika Indonesia tidak bisa bergantung selamanya pada eksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam yang tentu jumlahnya akan menyusut. Melainkan juga harus mulai mendorong industri sumber daya alam yang digerakkan oleh inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. 
“Dengan tema Innovation Driven Natural Resource, diharapkan konferensi ini mampu mendorong perubahan industri di Indonesia yang kini berfokus pada Sumber Daya Alam bergeser ke industri berbasis teknologi inovasi”, pungkasnya. 
RABU, 16 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...