Lemon Kisar, Buah Khas Maluku yang Minim Perhatian Pemda

Pedagang Lemon Kisar dari Kabupaten Maluku Barat Daya, di Bilangan Yaan Paais Kota Ambon
AMBON — Pemerintah Daerah Provinsi Maluku dan Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), dinilai minim perhatian terhadap pengembangan tanaman Lemon Kisar (Lekis), yang notabenenya adalah tanaman khas milik masyarakat Kabupaten MBD Provinsi Maluku.
Padahal, masyarakat setempat jika panen bukan hanya memasarkan atau menjual hasil tanaman merek yang satu ini di Maluku saja, tapi hingga ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sejak tahun 1998 hingga 2015 Lemon Kisar sudah terancam punah. Kondisi demikian, instansi pemerintah terkait baik dari Kabupaten MBD maupun Pemda Provinsi Maluku hingga kini terus cuek.
Menyangkut masalah ini Ketua Lembaga Pengkajiaan Pembangunan Selatan Daya (LPPMSD), Rendra Manaha kepada Cendana News di Ambon Sabtu (12/09/2015) mengatakan, produk unggulan Kabupaten MBD Provinsi Maluku itu sudah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian No 864/Kpts/TP.240/11/98, tertanggal 4 November Tahun 1998.
Sayangnya, pemerintah Kabupaten MBD maupun Pemprov Maluku kurang memperhatikannya. Padahal Lemon Kisar itu telah menjadi kebanggaan orang Maluku.
“Kami kecewa dengan gaya pemerintah yang tidak serius mengembangkan atau mendukung para petani Lemon Kisar. Pemerintah tidak adil,” kesalnya.
Alasannya, ketika musim panen para petani Lemon Kisar bisa menjual hasil panen mereka hingga ke Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan masyarakat dan Pemda Provinsi NTT merespon baik tanaman khas milik masyarakat Kabupaten MBD itu.
“Harapan kami, Pemda Kabupaten MBD dan Pemda Provinsi Maluku bisa serius memperhatikan nasib para petani maupun pedagang Lemon Kisar,” tuturnya.
Dia menyebut, pihak Dinas Pertanian selama ini hanya diam dengan kondisi para petani Lemon Kisar di Kabupaten MBD.
“Karena selama ini para petani Lemon Kisar tidak pernah mendapat perhatian dalam hal pendampingan atau dilatih secara khusus untuk bisa mengembangkan tanaman mereka. Minimal Dinas Pertanian melatih mereka dengan cara pembibitan agar tanaman Lemon Kisar ini tetap dilestarikan,” jelasnya.
  
Selain itu, Rendra Manaha juga kecewa terkait para pedagang Lemon Kisar ketika berjualan di kota Ambon, sering tidak mendapat pelayanan atau tempat khusus guna mendagangkan hasil panen mereka.
Menurutnya, kondisi minim perhatian pemerintah tersebut menyebabkan para petani/pedagang Lemon Kisar ini, terpaksa hanya bisa berjualan di pinggiran jalan semisal di Bilangan Yaan Paiss kompleks PGRI Kota Ambon.
Di tempat yang sama, salah satu pedagang Lemon Kisar, C Dahoklory, yang biasanya berjualan di Bilangan Yaan Paiss Ambon, berharap Pemda Maluku juga Pemkot Ambon, bisa memperhatikan mereka.
Minimal menyediakan tempat atau lokasi agar para petani/pedagang Lemon Kisar bisa mendapat tempat khusus untuk berjulalan.
Keluhan ini,  disampaikan Dahoklory lantaran meski ia bersama rekan-rekan pedagang yang hanya berjualan di emperan jalan, malah petugas Pemkot Ambon setiap hari menarik retribusi dari mereka Rp 1. 000 per meja jualan.

SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Samad Vanath Sallatalohy
Foto            : Samad Vanath Sallatalohy
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...