Main “Mato” di Rumah Makan Padang

PADANG — Siapa yang tak tahan dengan godaan nasi padang? Iya, nasi dengan lauk yang beragam mulai dari rendang hingga tempe goreng. Tidak hanya menawarkan kenikmatan saja, ternyata Rumah Makan Nasi Padang juga dikelola dengan metode yang berbeda.
Para karyawan yang ada di Rumah Makan Padang, tidaklah digaji selayaknya seperti pekerja lain. Namun ada rahasia dibalik itu, meski tidak digaji sesuai dengan UMR (Upah Minimun Regional) mereka tetap bersemangat.
Entah darimana awalnya, seolah manajemen rumah makan padang, memiliki ke khasan tersendiri. Dan semakin hari semakin langka yang menerapan manajemen tersebut. Yaitu manajemen “mato” (mata) atau yang lebih simple untuk dipahami adalah system bagi hasil namun dengan metode yang unik.
Setiap karyawan memiliki “mato” yang berbeda, sesuai dengan jabatannya sebagai karyawan rumah makan. Antara tukang cuci piring dengan tukang masak, akan memiliki “mato” yang berbeda. “Mato” tersebut hamper serupa dengan perhitungan bagi-hasil atau menggunakan sistem poin. Acuan dalam menentukan poin yang didapat karyawan adalah berdasarkan bobot kerja atau “mato”. 
Mereka juga bukan gajian seperti karyawan lainnya, tapi mereka gajian setelah 100 hari kerja, jika belum sampai maka gajinya tidaklah pakai sistem “mato” melainkan kebaikan induk semang saja.
“Saya sudah bekerja selama 25 tahun disini, dan sudah banyak yang silih berganti jadi karyawan rumah makan ini tapi Alhamdulillah hingga hari ini induk semang masih pakai sistem mato,” ujar Ajo In, pada Cendana News, Sabtu (19/9/2015) siang. Ajo In merupakan tukang paluang (tukang hidang) di rumah makan Beringin yang bertempat di Daerah Tabing, Kota Padang
Gaji setelah seratus hari kerja itu, mendebarkan setiap karwayan, bagaimana tidak? Jika rumah makan untung besar, gaji mereka bisa sampai puluhan juta rupiah, namun jika ternyata rumah makan merugi mereka akan gigit jari untu 100 hari ke depannya.
“Tapi biasanya, kalau sepi, kami berikan kas bon pada setiap karyawan, tapi tidak langsung sekali ke 13 karyawannya, kami selang-selingi,” ujar kasir Rumah Makan Beringin yang minta namanya tidak dicantumkan itu.
Ajo In, menjelaskan, bahwa selama 25 tahun ia bekerja, keuangan dari rumah makan sangat transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Keadaan ini pulalah yang membuat setiap karyawan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik mereka. Sehingga makin banyak pelanggan, jika begitu, sudah barang tentu omzet mereka meroket.
“Setahu saya selama 25 tahun jadi karyawan disini, perhitungannya itu seperti ini, omzet selama 100 hari itu dikurangi biaya operasional yang terdiri dari belanja bahan baku, biaya telepon, listrik dan lain-lain. Dari sini akan ketemu laba kotor. Laba kotor ini dipotong zakat lebih dulu, yaitu 2,5 persen dari total laba kotor, nah setelah itu, kami akan berbagi mato dengan induk semang,” jelas Ajo In.
SABTU, 19 September 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...