Manfaatkan Sampah, Mahasiswa UNTAG Olah Daun Kering Jadi Briket

SURABAYA — Melimpahnya sampah daun kering di Desa Pakel, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, mahasiswa Universitas 17 Agustus (UNTAG) Surabaya saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berinisiatif membuat arang briket dan dibagikan kepada masyarakat desa yang masih menggunakan kompor tungku.
“Lokasi KKN di Jombang yang merupakan daerah pegunungan dan pepohonannya pun rindang, sangat sayang kalau daun yang kering itu cuma dibakar dan tidak dimanfaatkan untuk hal yang lebih penting,” kata Ahmad Chandra Kharisma, Koordinator Kelompok KKN Untag kepada Cendana News, Minggu (13/09/2015).
Bersama tim KKNnya membuat kesepakatan bersama memilih untuk membuat arang briket.
“Sekitar 70 persen penduduk disana masih menggunakan tungku dan kayu sebagai alat memasak, maka dari itu kita pun menetapkan pilihan supaya itu bisa bermanfaat bagi semua warga dan bernilai ekonomis dibandingkan harus beli kayu,” paparnya.
Selama sepekan tim KKN Untag itu mencoba untuk memproses sampah daun kering itu. Sekitar satu tong sampah yang mereka kumpulkan berhasil diubah menjadi beberapa kilogram briket.
“Langkah pertama untuk membuat briket, yakni mengumpulkan daun kering, di masukkan ke drum dan di bakar dari bawah, setelah itu daun terlihat menghitam dan terlihat kering selanjutnya di tumbuk dan dicampurkan dengan kanji sebagi perekat. Kemudian di cetak dan di jemur sampai benar-benar kering untuk dijadikan briket, pada saat kering kami coba dibakar dan akhirnya bisa menyala,” terangnya.
Selain ekonomis, kelebihan lain arang briket buatan mahasiswa Untag ini dibandingkan dengan briket batu bara adalah dilihat dari warnanya juga cenderung agak pekat, aromanya tidak menyengat.
“Dibanding briket batu bara, bentuknya lebih mirip arang. Briket ini lebih awet karena rongga di dalamnya padat. Selisihnya saat dibakar dua kali lipat lebih lama ketimbang arang. Saat dibakar masih ada asap yang keluar dari briket sampah. Kecenderungan ini berbeda dengan briket baru bara yang relatif bersih dari polusi. Selain itu bisa pembakaran briket batu bara tak menyisakan abu, sementara briket sampah masih menyisakan abu,” katanya.
Hasil eksperimen yang diajarkan oleh kumpulan mahasiswa Jurusan Matematika, Psikologi, Sastra Inggris, Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro, kepada sebagian warga ini, sudah dipasarkan di salah satu pasar di kecamatan itu. Bahkan Kepala Desa sudah menyewa stand untuk memasarkan briket sampah.
Kebanyakan briket sampah dipakai pembeli untuk membakar sate, daging, dan sejenisnya. Namun Arifin menyebut, bahan bakar itu dapat juga dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Dari pada warga memakai tungku kayu. Mending pakai briket. Lebih ramah lingkungan.
MINGGU, 13 September 2015
Jurnalis       : Charolin Pebrianti
Foto            : Charolin Pebrianti
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...