Masyarakat masih Menunggu Uang Ganti Rugi Lahan Jalan Tol Sumatera

LAMPUNG — Perkembangan proses ganti rugi tanah pembangunan ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) hingga kini masih ditunggu oleh masyarakat. Warga menunggu kepastian agar bisa mengambil langkah selanjutnya terkait tanah mereka yang masuk dalam areal yang akan dijadikan jalan tol.
Sebagian warga bahkan mulai melakukan antisipasi dengan menyiapkan lahan lain yang akan dipergunakan untuk tempat tinggal sebagai ganti untuk lahan yang sudah ditandai dengan patok jalan tol. Sementara sebagian besar masyarakat masih belum memiliki kepastian kapan akan pindah karena belum memperoleh ganti rugi lahan. Sebagian masyarakat yang terdampak lahan tol ruas Bakauheni-Terbanggi Besar berharap jika uang ganti rugi lahan tol cair mereka bisa segera mencari lahan lain untuk tempat tinggal.
Sebelumnya warga sempat memperoleh informasi terkait pencairan uang ganti rugi lahan milik warga yang terkena jalan tol, namun kepastian kapan akan cair diakui warga belum ada titik terang. Salah seorang warga Dusun Kenyayan Kecamatan Bakauheni yang berada di ruas 1 kilometer dari titik nol Jalan Tol Sumatera, Budi (34) bahkan mengaku ia hanya pasrah kapanpun akan diberikan ganti rugi.
“Kalau saya tetap pasrah saja karena rumah saya sudah terkena patok tol dengan tanda silang merah, tinggal menunggu saja dan karena saya sudah terdaftar kalau cair pasti akan saya ambil di bank sesuai mekanisme yang ada,”ungkap Budi kepada Cendana News, Rabu (16/09/2015).
Budi mengungkapkan, telah ditawari sebidang tanah di daerah Pegantungan Bakauheni oleh salah satu kerabatnya, namun karena belum memiliki uang untuk uang muka maka ia masih mengurungkan niat untuk membeli tanah. Ia bahkan mengakui sudah banyak para spekulan tanah yang mengambil kesempatan dari akan banyaknya warga yang pindah setelah terjadi penggusuran. Beberapa diantaranya dengan menawarkan tanah tanah kavlingan yang terbilang cukup mahal untuk warga seperti Budi.
Budi mengakui tanah kavlingan yang rata rata dijual dengan ukuran 10meterx10 meter, 10×15 meter dengan harga sekitar Rp17juta lebih tersebut bahkan sebagian sudah terjual di wilayah kampung Umbul Jering Bakauheni. Sebagian pembeli sudah mempersiapkan pondasi untuk persiapan jika sewaktu waktu akan pindah. Masyarakat bahkan masih terus melakukan aktifitas sehari hari seperti biasanya dan mulai tak terlalu mengkuatirkan terkait rencana pembebasan lahan.
“Sudah tak begitu heboh seperti diawal kami kuatir akan digusur ternyata prosesnya lama, diukur, divalidasi, diminta membuat rekening, sampai kapan nanti uang akan cair pun kami belum tahu dan kami tetap lakukan aktifitas harian seperti biasa,”ungkap Budi.
Sebelumnya diungkapkan Asisten II Bidang Ekonomi dan pembangunan (Ekobang) Pemerintah Provinsi Lampung, Adeham menyebutkan, proses ganti rugi pembebasan lahan bagi masyarakat yang tanahnya terkena dampak pembangunan jalan tol tinggal menunggu pencairan dana dari Kementerian Pekerjaan umum dan perumahan Rakyat (PUPR).
“Masih nunggu dari Kementerian PU, Dirjen bilangnya minggu ini sudah dicairkan semua. Total dana Rp.62 miliar katanya untuk 1 km yang di Desa Bakauheni. Kita masih nunggu,” jelas Adeham.
Adeham mengatakan, tahapan validasi yang cukup memakan waktu membuat proses pembebasan lahan berjalan lambat.
“Sudah saya katakan, prosesnya BPN ngukur memaknai data masuk itu benar atau tidak namanya validasi. Tanah dan tumbuhan yang tumbuh diatasnya juga diukur dinas pertanian setempat. Setelah selesai semua diperincikan lalu diumunkan kepada masyarakat selama 14 hari, jika benar selanjutnya terjadi validasi data, setelah selesai laporkan ke kementrian PU dan siap dibayarkan,” ungkap Adeham.
Sementara itu, untuk lahan tol di Kabupaten Lampung Tengah menurut Adeham belum dilakukan pengukuran. Bahkan tanah warga masyarakat yang ada diantara tanah PTPN 7 tinggal validasi lalu pembayaran ganti rugi.
Adeham mengatakan rapat koordinasi terus dilakukan bersama tiga kementrian yang terlibat dalam pembangunan jalan tol trans-Sumatera ini. Ia memastikan dilakukan dua minggu sekali rapat terus untuk percepatan pembangunan jalam tol.
Pantauan Cendana News proses penimbunan di lahan titik nol Jalan Tol Trans Sumatera di Bakauheni terus dilakukan. Ratusan kendaraan truk dengan ribuan kubik tanah merah yang diambil dari wilayah bukit bukit di Bakauheni hilir mudik untuk menimbun tanah berawa di sekitar dermaga IV Pelabuhan Bakauheni tersebut. Bahkan tanah yang berada di cekungan tersebut kini terlihat sama rata dengan Jalan Lintas Sumatera.

RABU, 16 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...