Masyarakat Pesisir Barat Manfaatkan Panel Surya untuk Penerangan

LAMPUNG — Meski wilayah terisolir, energi listrik di masih sangat diperlukan bagi masyarakat untuk penerangan di malam hari dan menghidupkan alat alat elektronik seperti radio dan lainnya. Meski tidak mendapatkan pasokan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak menyurutkan warga di wilayah Pekon Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing untuk memperoleh penerangan listrik meskipun hanya menggunakan energi matahari menggunakan panel surya.
Salah satu warga di Pekon Way Haru Kecamatan Bengkunat Belimbing Pesisir Barat yakni Petrus mengaku sudah menggunakan panel surya semenjak 5 tahun lalu. Sebelumnya Petrus menggunakan lampu petromak berbahan bakar minyak bumi dan kemudian dia menerima tawaran untuk menggunakan panel surya yang bisa digunakan untuk penerangan di rumahnya.
“Saya membeli panel surya yang paling sederhana dan instalasi yang paling murah yang penting bisa digunakan untuk penerangan di malam hari sebab siang hari kami selalu berada di kebun mengurus tanaman,”ungkap Petrus kepada media Cendana News.com Selasa (15/09/2015).
Keterbatasan ekonomi membuatnya belum mampu membeli sel sel surya yang lebih banyak untuk menangkap energi yang lebih besar. Potensi wilayah pesisir di Samudera Hindia yang panas pun dimanfaatkan oleh ratusan warga yang tersebar di beberapa dusun dan pekon dengan menggunakan energi matahari.
Petrus mengaku dengan harga yang relatif mahal untuk dirinya yang bekerja sebagai petani, ia mengurungkan niat untuk membeli panel surya yang lebih besar seperti yang dimiliki oleh tetangga lainnya. Bahkan beberapa keluarga di Way Haru yang belum menikmati energi listrik dari PLN masih menggunakan panel surya untuk memenuhi kebutuhan akan listrik untuk menyalakan televisi, radio.
Salah satu tetangga Petrus, Nyoman, mulai memasang panel surya ini pada tahun 2010, saat itu harganya masih sangat mahal baginya. Pemasangannya pun bertahap, waktu itu satu panel terlebih dahulu yang dipasang berkekuatan paling kecil sekitar 50 watt dengan harga berkisar 750 ribu. Kemudian beberapa panel surya penunjang energi listrik dirumahnya dipasangi lagi karena kebutuhan listrik membutuhkan lebih banyak daya.
Energi listrik yang di hasilkan panel surya terkecil tersebut dapat menampung 50 watt daya dengan asumsi pancaran panas sinar matahari normal stabil, untuk dapat menerangi lampu LED DC 12 volt total sekitar 15 watt dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Bila untuk beban lampu 30 watt LED mungkin akan bertahan 8 jam dan seterusnya. Untuk lampu 3 watt LED itu terangnya setara dengan lampu biasa yang 12 watt.
“Saya memiliki televisi dan radio sehingga daya yang saya perlukan lebih besar sehingga saya harus memiliki panel surya lebih besar,”ungkap Nyoman.
Menurut Nyoman, meskipun masih menggunakan energi listrik tenaga surya namun ia dan ratusan warga lain di Way Haru masih tetap mengharapkan tenaga listrik dari PLN. Ia bahkan berharap ingin memiliki lemari es yang dayanya lebih besar dan tidak memungkinkan digunakan dengan listrik tenaga matahari yang terbatas.
Petrus, Nyoman yang sehari hari menjadi petani pekebun dengan menanam lada, kopi serta padi berharap kebun yang ia miliki bisa menghasilkan panen cukup baik untuk bisa membeli kebutuhan sehari hari termasuk untuk membeli panel surya baru. Saat ini hasil panen lada petani lada di wilayah tersebut mencapai kisaran harga Rp.120ribu, namun karena hanya memiliki tanaman lada sedikit hasil dari panen lada masih sekedar untuk kebutuhan sehari hari.
“Kami memiliki tanaman lada tapi sedikit dan sebagian besar warga di sini justru menjadi buruh upahan panen lada di pemilik kebun yang luas. Kalau mau beli panel surya baru pastinya harus kerja lebih keras,”ungkap Nyoman.
Sejauh ini untuk kebutuhan listrik selain tenaga surya masyarakat di wilayah tersebut juga memanfaatkan listrik tenaga genset perseorangan terutama yang mampu membeli alat tersebut. Sebagian warga yang mampu memilih membeli satu genset berkapasitas ribuan watt untuk dipergunakan disejumlah rumah. Biaya pengadaan sarana genset, operasional, pemeliharaan berasal dari iuran masing masing pengguna.
“Meski menggunakan genset secara iuran tapi tenaga listrik tersebut hanya digunakan sejak pukul 18:00 sampai pukul 23:00,”ungkapnya.
Selain sebagai petani Nyoman juga terkadang menjadi pengojek hasil pertanian di wilayah Way Haru yang akan dijual ke Krui ibukota Pesisir Barat melalui pantai di Pesisir Barat Lampung. Ongkos transportasi yang mahal dengan infrastruktur jalan yang masih belum baik membuat biaya transportasi mahal dan energi listrik PLN belum bisa tersalurkan sehingga energi listrik tenag matahari menjadi solusi wilayah terisolir tersebut.
SELASA, 15 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...