hut

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Home Industri di Probolinggo

PROBOLINGGO — Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar yang terjadi sekarang rupanya cukup mempengaruhi para pelaku home industri di berbagai daerah. Salah satunya di Probolinggo, Jawa Timur, seperti yang dialami oleh industri rumahan pembuatan Rengginang.
Saat di temui di tempat usahanya yang berada di Jalan Cokroaminoto gang 8 No.161 Kota Probolinggo, Misnalen (35) generasi ke tiga pemilik home industri rengginang “Barokah” yang sudah ada sejak tahun 1982 mengaku bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar cukup mempengaruhi usahanya.
Menurutnya, melemahnya nilai tukar Rupiah menyebabkan terjadinya kenaikan harga beras ketan putih yang merupakan bahan baku utama pembuatan rengginang.
“Dari yang biasanya harga beras ketan putih hanya sepuluh sampai sebelas ribu Rupiah, kini naik menjadi Rp.12.500,- per kg,” ucapnya. 
Tidak hanya harga beras ketan putih yang naik, ikan segar untuk bahan campuran membuat rengginang juga naik. Kenaikan harga bahan baku ini menyebabkan harga rengginangnya terpaksa dia naikan.
“Terpaksa harga rengginang saya naikkan seribu Rupiah,” ujarnya.
Dikatakan, mengatasi permasalahan dengan menaikkan harga rengginang tersbut dilakukan dari usulan banyak pelanggan yang menyarankan lebih baik menaikkan harga rengginang daripada memperkecil ukuran rengginang, jelasnya.
“Namun begitu tetap saja jumlah pelanggannya sekarang jauh berkurang di bandingkan sebelum harga rengginangnya naik,” keluhnya.
Untuk sekarang Misnalen menjual rengginang siap konsumsi dengan harga Rp. 6.000,-/ 150 gram, Rp. 9.000,-/ 200 gram. Sedangkan rengginang mentah dia jual Rp. 15.000,-/ 500 gram.
Dengan dibantu 5 orang pekerjanya, Misnalen setiap harinya memproduksi 50 kg rengginang. Selain menjual rengginangnya di tokonya sendiri, biasanya rengginanya dia pasarkan di daerah Malang, Surabaya dan Semarang.
JUMAT, 4 September 2015
Jurnalis       : Agus Nurchaliq
Foto            : Agus Nurchaliq
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...