Membangun Manusia Pancasilais Mampu Menangkal Berkembangnya Komunis

H. Hopid S. Pd.
MEGAPOLITAN—Guru adalah salah satu garda terdepan untuk menyampaikan pelajaran sejarah bangsa ini kepada generasi penerus bangsa.  H. Hopid S.Pd, salah satu pengajar di SMP Negeri 7 Utan Kayu Utara, Jakarta Timur menyampaikan tentang perbedaan antara Orde Baru dan Reformasi perihal pengenalan pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965 yang kemudian dikenal dengan G.30.S/PKI 
Menurutnya, masa Orde Baru, pencerahan tentang G.30.S/PKI kepada murid selaku penerus bangsa sangat berkesinambungan, berbeda dengan sekarang yang semakin lama semakin berkurang. 
Hopid menjadi guru sejak 37 tahun yang lalu, ia mengajar mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang kemudian berubah menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang lantas kembali berubah menjadi PKn (Pelajaran Kewarganegaraan). Materi yang dipelajari sudah banyak yang lebih mengarah pada kenegaraan meskipun masih ada unsur mengenai Pancasila namun tidak terlalu banyak.
Perubahan tersebut menurut Hopid memiliki dampak yang besar bagi siswa, salah satunya banyak siswa yang sekarang tidak tahu apa itu G.30.S/PKI. Bahkan sebagian besar murid hanya tahu nama-nama Pahlawan Revolusi tetapi tidak sungguh-sungguh tahu sejarah terjadinya Pemberontakan yang didalangi PKI tersebut. 
“Tetapi saya tetap menanamkan kepada anak didik saya bahwa masyarakat Indonesia yang relijius  dan pancasilais berlawanan dengan faham komunis,” jelasnya. 
Hopid menambahkan, untuk membangun manusia Indonesia yang pancasilais dan relijius adalah dengan menekankan pada anak didiknya tentang pentingnya mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan agama.
“Kapanpun, di manapun, faham komunis tidak boleh hidup atau tumbuh dan berkembang di Indonesia,” tegasnya.
Karya Ilmiah H. Hopid S.Pd saat Sidang Kelulusan S-I Jurusan Sosial Politik di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
 Bertempat di ruang kerjanya, Hopid memperlihatkan Karya Ilmiah saat Sidang Kelulusan S-I Jurusan Sosial Politik di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Karya Ilmiah tersebut diberi judul : Perbandingan Antara Islam dengan Ideologi Pancasila dengan Pengamalannya.
“Kesimpulan dari Karya ilmiah tersebut adalah, bahwa agama Islam sesuai dengan idiologi Pancasila, Sementara faham Komunis, aliran kiri separatis sejenisnya, bahkan aliran keagamaan radikal Islam sekalipun, tidak cocok dengan Pancasila,” jelasnya.
Di sisa masa pengabdiannya sebagai pengajar, Hopid berharap agar Indonesia tetap bisa menjaga Pancasila dari rong-rongan pihak manapun. Pancasila adalah idiologi paling tepat bagi Indonesia, tidak bisa diganti dengan idiologi yang lain. Faham Komunis sebagai salah satu faham yang sedang berusaha bangkit di era reformasi ini bisa ditangkal dengan adanya generasi muda bangsa yang memahami nilai-nilai pancasila dan mengamalkannya. 
“Kerjasama pemerintah dengan Tiongkok yang semakin erat saat ini menurut saya bisa menimbulkan efek yang kurang bagus kedepannya. Ingatlah sejarah wacana Poros Jakarta-Beijing, dan ingatlah idiologi Nasakom Bung Karno dulu. Komunis muncul karena diberikan kesempatan dan ruang gerak pada saat itu. Jadi waspadai Komunisme gaya baru sekarang ini dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila dan pemahaman agama yang mendalam sejak dini kepada anak-anak muda Indonesia,” ujar ayah dari empat orang anak ini.
RABU, 30 SEPTEMBER 2015
Jurnalis  : Miechell Kuagouw
Foto : Miechell Kuagouw
Editor : Sari Puspita Ayu
Lihat juga...