Mengejar Matahari

CERPEN — “Ini adalah momentum terbaik bagi kita untuk memenangkan Bapak dan menyelamatkan daerah ini dari berbagai beban. Dan kami sangat yakin dan percaya, bapak adalah orang yang tepat untuk memimpin daerah ini. Kapasitas dan kapabilitas Bapak sudah teruji. Dan Insya Allah dengan niat yang baik dan dukungan yang positif dari rakyat, daerah kita akan terbebas dari beban sebagai daerah tertinggal,”ujar seorang ketua Partai. Malam makin meninggi. Menjauh.

“Ini amanah yang harus kami serahkan dan mandatkan kepada Bapak dari para konstituen kami. Mareka yakin hanya Bapak yang bisa menyelamatkan daerah ini,”  sela Pengurus Partai yang lain. Dan lelaki itu terdiam. Baru kali ini beban yang diamanatkan kepadanya amat berat. Ya, amat berat karena harus mereparasi ulang daerah Ancoklilot menjadi sejajar dengan daerah lainnya. Dan itu amat berat. Sebuah amanat yang amat berat.

Ini merupakan amanah ketiga yang diterimanya dalam masa pengabdiannya sebagai birokrat. Dan sebagai putra daerah dirinya berkewajiban mengemban amanah dari rakyat daerahnya. Apalagi berbagai predikat buruk telah diterima daerah kelahirannya. Mulai dari status daerah tertinggal hingga zona merah yang merupakan predikat terburuk dalam tata kelola pemerintahan yang sempat ditinggalkannya. Dan sebagai birokrat dirinya heran dengan predikat buruk itu. Padahal potensi daerah ini sangat luarbiasa dan menjadi incaran para investor.

Lelaki birokrat itu masih ingat ketika memimpin daerah ini lima tahun yang lalu, potensi sektor perikanan dan kelautan menjadi narasi para petinggi di departemen. Demikian pula dengan potensi sejarahnya yang amat layak dijual karena pernah didatangi Presiden pertama saat masa penjajahan. Belum lagi potensi ekonomi lainnya yang sangat menjanjikan bagi sejahteranya rakyat.

Lelaki itu awalnya ingin berhenti mengabdi. Sudah sepantasnya dia beristirahat. Apalagi desakan dari keluarga sangat memintanya untuk beristirahat dari pengabdian. Namun desakan yang sangat luarbiasa yang datang bak gelombang tsunami membuatnya harus menunda istirahat dimasa pensiunnya. Desakan yang datang bertubi-tubi bak mesiu yang dilontarkan di medan perang membuatnya tak bisa menolak amanah suci dari para rakyat.

” Kalau Bapak tak maju maka Bapak sama saja dengan menghianati daerah ini,” ujar seorang tokoh agama.

” Benar sekali Pak Ustad. Ini amanah murni dan suci dari rakyat yang harus Bapak pertanggungjawabkan di akherat nanti,” sela tokoh masyarakat.

Dan ketika lelaki itu mengiyakan untuk memikul amanah, rakyat bersorak gembira. Dengan semangat gotong royong yang merupakan simbol daerah ini saat didirikan, rakyat secara bersama-sama dan dibaluti semangat kebersamaan yang tinggi serta saling bahu membahu mengkampanyekan dirinya secara murni tanpa adanya unsur paksaan dan uang. Rakyat kompak. Berbagai posko pemenangan dibangun dengan sukarela. Semua rakyat bergerak dan bergerak secara sukarela.

Kondisi ini membuat pesaingnya terkejut dan kaget setengah mati. Tim pemenangan yang mareka bentuk selalu bekerja berdasakan uang dan anggaran. Tak ada anggaran tak ada aktivitas. Tanda-tanda kekalahan mulai terlihat dengan makin sepinya rakyat yang berkunjung ke posko pemenangannya. Dan ini yang membuatnya kecewa.

” Saya heran dengan situasi ini. kenapa rakyat tidak mau berkumpul lagi di posko ini,” tanyanya. Semua yang ada diruangan itu terdiam, membisu, hening. Tak ada yang menjawab. Desis angin pun terhenti.

Sebagai pesaing yang memiliki dana besar dan didukung Partai, pesaingnya yakin akan mampu memenangkan pertarungan demokrasi ini dengan mudah. Nyatanya untukmengumpulkan orang 30 saja susahnya minta ampun. Bahkan tim pemenangannya harus merengek-rengek kepeda masyarakat untuk datang.

“Datang saja Pak. Soal pilihan Bapak yang lain tak masalah. Yang penting jangan mempermalukan kami,” ujar seorang tim pemenangannya dengan nada memelas.

“Iya, Pak. Tolong kami Pak. Tolong lah Pak,” sela tim pemenangan lainnya dengan narasi memelas bak pengemis yang sering meminta-minta di jalanan.

Namun rakyat tetap enggan datang. Mareka sibuk mengkampanyekan tim idola masyarakat. Mareka berjuang dengan ihklas dan sukarela.

Hari yang ditunggu pun telah tiba. Rakyat dengan semangat 45 datang ke TPS untuk memilih lelaki birokrat itu dengan sadar dan sukarela. Mareka rela menunggu di TPS hingga perhitungan selesai. Dan ketika rakyat melawan maka uang tak ada guna. Dan itu baru disadari pesaingan lelaki birokrat tadi.

Mentari mulai merebahkan diri diperaduannya untuk istirahat sejenak. Melepaskan kepenatan. Dan esok pagi kembali menyinari bumi. Sementara geliat malam mulai terlihat untuk kembali terangi bumi.  
MINGGU, 6 September 2015
Penulis       : Rusmin Toboali
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...