Monumen Pahlawan Pancasila, Saksi Bisu Kekejaman PKI Di Yogyakarta

Monumen Pahlawan Pancasila
YOGYAKARTA — Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan Yogyakarta menjadi saksi bisu dari kekejaman gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G.30.S/PKI) . Di lokasi tersebut dua putra kebanggaan bangsa, Brigjen Katamso dan Kolonel Sugoyono dibunuh secara keji.
Untuk mengenang jasa besar kedua pahlawan revolusi di Yogyakarta tersebut, Presiden Soeharto lalu memprakarsai didirikannnya Monumen Pancasila Sakti di desa Kentungan, yang meurpakan tempat pembantaian sadis dua perwira tinggi itu. Lalu pada ahun 1991, monumen itu diresmikan oleh Sri Paduka Paku Alam VIII.
Dari Buku Panduan Monumen Pahlawan Pancasila yang diterbitkan Dinas Sosial Pemda DIY, lubang itu merupakan bekas dua lubang yang menjadi satu membujur dari timur ke barat sepanjang 1,87 meter, dengan lebar dan kedalaman 0,5 meter.
Malis Ari Julianto, petugas museum yang ditemui, Rabu (30/9/2015) mengatakan, lubang itu merupakan saksi bisu kekejaman PKI ketika membunuh Brigjen Katamso yang pada waktu itu masih berpangkat Kolonel Infanteri, Komandan Korem (Danrem) 072 Pamungkas, dan Kepala Staff Komando Resimen 072, Letnan Kolonel Sugiyono. Waktu itu, kata Malis, Kolonel Katamso diculik di kediamannya oleh anggota Batalyon 403 yang pada waktu itu bernama Batalyon L. Ia dibawa ke Markas Komando  Batalyon L yang berada di belakang Monumen Pancasila.
“Monumen ini dahulu merupakan rawa-rawa. Pelaku pembunuhan sudah menyiapkan lubang, dan Brigjen Katamso dibawa dari markas ke lubang yang sudah disiapkan dengan menggunakan Mobil Gaz. Saat diturunkan di sini, Brigjen Katamso lalu dipukul dengan kunci mortir ukuran 8 dari belakang dan langsung jatuh tersungkur. Tubuhnya kemudian dimasukkan ke dalam lubang”, tutur Malis.
Namun demikian, sambung Mallis, Brigjen Katamso yang sesudah dipukul dan dimasukkan ke dalam lubang ternyata masih hidup. Pelaku yang diduga anggota PKI lalu melemparinya dengan batu-batu besar hingga tewas. Setelah itu, kata Malis, Kolonel Sugiyono pun dimasukkan ke lubang yang sama setelah disiksa seperti halnya Brigjen Katamso. Mereka, dua pahlawan Pancasila itu dibunuh dengan keji dan dikubur dalam satu lubang yang sama dengan posisi kaki keduanya tertekuk dan hampir bertemu. “Waktu itu, lubang kemudian ditutup dengan tanah dan ditanami ubi jarak dan ubi pisang sebagai kamuflase”, ujar Malis.
Menurut buku panduan monumen, jazad keduanya lalu ditemukan 20 hari kemudian, yaitu pada 21 Oktober 1965 dan langsung dibawa ke RS DKT. Sesudah itu, jenazah dibawa ke Markas Korem, untuk dilaksanakan upacara secara militer dalam prosesi pemakanannya di Taman Makam Kusumanegara Yogykarta pada 22 Oktober 1965.
Kini, tepat di atas lubang tersebut dibangun monumen peringatan dan diberi lambang Garuda Pancasila untuk mengenang jasa keduanya. Monumen itu dibangun pula dengan sejumlah relief yang mengisahkan peristiwa pembunuhan keji itu. Sementara itu di depan monumen, berdiri tegak patung Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono. Sedangkan di samping monumen, dibangun pula sebuah taman kecil dilengkapi replika dua buah mobil tank bercorak loreng hijau khas TNI Angkatan Darat dan sebuah mobil Gaz berwarna coklat yang dahulu digunakan PKI untuk menculik kedua pahlawan tersebut.
“Dua Mobil Tank itu dulu dipakai untuk mengangkut jenazah Brigjen Katamso dan Kolonel Sugityono menuju peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta. Selain itu, masih ada lag sebuah museum kecil yang berisi informasi dan benda pribadi kedua pahlawan revolusi itu seperti pakaian dinas keduanya serta buku-buku dan foto-foto kesembilan pahlawan nasional yang gugur dalam peristiwa Gestapu dan Gestaok”, jelas Malis.
Monumen Pancasila Sakti di Kentungan Yogyakarta, kata Malis, selalu ramai dikunjungi para sisswa sekolah dan masyarakat luas setiap tiba peringatan G.30.S/PKI. Pada bulan September dan Oktober, kata Malis, jumlah pengunjung biasanya bisa mencapai 450-an sebulan. 
deretan 9 foto Pahlawan Revolusi

lubang bekas kuburan Brigjen Katamso dan Kol Sugiyono

duplikat tank

Dupiklat mobil gaz
RABU, 30 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...