MUI: Perbedaan Penetapan Idul Adha karena Ada Dimensi Ibadah

NASIONAL — Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menilai, perbedaan penetapan Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah karena ada dimensi ibadah di dalamnya, diantaranya Ruyat atau Hilal.
“Yaa, ada dimensi ibadah di dalamnya, antara lain mulai dari cara pengambilan keputusan dan kaitannya dengan ibadah puasa Arafah pada tanggal 9,” kata Din di Jakarta, Senin (14/09/2015).
Muhammadiyah, kata Din, mengambil keputusan berdasarkan perhitungan atau metoda hisab, telah mengeluarkan putusan bersamaan dengan putusan 1 Ramadhan dan 1 Syawal.
Menurutnya kalau dilihat berdasarkan perhitungan derajat kemiringan dan penampakan bulan atau kriteria Imkanur Ru’yat, hingga hari ini hilal belum terlihat, sehingga masih dalam bulan terakhir Dzulqaidah atau digenapkan.
“?PP Muhammadiyah telah mengeluarkan maklumat barengan dengan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal, saya sendiri yang tandatangan,” ujarnya.
Din Syamsudin berharap dengan adanya perbedaan ini, kita tidak perlu saling membesar-besarkan hal tersebut.
“Penentuan dalam sidang Isbat kemarin sudah capai titik temu, yaitu bagi yang menggunakan dan meyakini perhitungan, maka Idul Adha jatuh pada tanggal 23 September 2015,” ucapnya.
Sedangkan, sambung dia, bagi yang menggunakan dan meyakini metoda Ruyat maka Idul Adha jatuh pada tanggal 24 September 2015 silahkan jalani sesuai keyakinan masing-masing.
Diketahui Pemerintah Saudi Arabia, telah menyatakan bulan baru untuk penetapan Dzulhijjah belum terlihat, sehingga tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada 15 September 2015, dan Idul Adha 1436 jatuh pada 24 September 2015.
SENIN, 14 September 2015
Jurnalis       : Adista Pattisahusiwa
Foto            : Adista Pattisahusiwa
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...