MUI Sulut: Berkurban Jangan Samakan dengan Berbisnis

Ketua MUI Sulawesi Utara
MANADO — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara (Sulut), meminta pada warga di Sulut agar tidak menyamakan kesadaran berkurban dengan Berbisnis. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua MUI Sulut, KH. Abdul. Wahab Abdul. Gafur, LC menyikapi adanya permainan harga dalam perdagangan hewan kurban.
Wahab menyatakan, dalam aturan agama islam yang dilarang yaitu menjual hewan atau ternak sapi pada hari raya kurban dengan menaikkan harga untuk kepentingan bisnis, karana kata Wahab hal itu merupakan tengkulak atau monopoli dagang.
“Orang yang membeli dan menikmati hewan kurban dari para tengkulak tidak akan mendapat pahala dan sapi yang dipotong tidak halal saat dikonsumsi,”katanya saat ditemui Cendana News pada Senin (21/09/2015) siang di gedung MUI yang terletak di Kelurahan Komo Luar, Kecamatan Lawangirung Manado.
Dia juga mengatakan, orang yang akan berkurban dikhususkan bagi mereka yang belum pernah berkurban, yang tujuannya untuk memenuhi rukun islam seperti yang diajarkan oleh para nabi. 
“ Orang yang akan berkurban disarankan orang yang belum pernah memberikan kurban, agar bisa mendapat pahala yang berlimpah, tapi bagi mereka yang sudah beberapa kali berkurban, dan mau berkurban lagi, sebaiknya dana kurban itu dialihkan untuk pembangunan rumah ibadah dan sekolah yang membutuhkan saluran bantuan dari para pengusaha dan orang yang mampu untuk berkurban” kata Wahab.
Kantor MUI Sulawesi Utara

Sapi, Hewan Kurban
SENIN, 21 September 2015
Jurnalis       : Ishak Kusrant
Foto            : Ishak Kusrant
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...