Museum Seni Pematung Dua Orde Diresmikan di Yogyakarta

penyerahan kembali patung kelaparan
YOGYAKARTA — Griya Seni Hj Kustiyah Edhi Sunarso di Desa Nganti, Mlati, Sleman, Yogyakarta, hari ini Minggu (20/9/2015 diresmikan pembukaannya oleh KPH Indrakusumo, pengageng Puro Pakualaman Yogyakarta. Griya Seni yang semula bernama Gallery Edhi Sunarso tersebut merupakan tempat bersejarah dibuatnya patung perunggu terbesar sekaligus monumental di Indonesia, yaitu Patung Selamat Datang yang berdiri di Bunderan Hotel Indonesia (HI) Jakarta.
Generasi muda sekarang, tak banyak yang mengetahui jika Patung Selamat Datang yang bercokol di Bunderan Hotel Indonesia (HI) Jakarta, dibuat di Desa Nganti, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Pembuatnya adalah Edhi Sunarso, seniman patung yang telah berkarya sejak tahun 1950. Sebagai seniman patung generasi tua, Edhi Sunarso pun banyak membuat patung-patung monumental di zaman Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Di antara maha karya Edhi Sunarso yang lain, di antaranya adalah Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng dan Patung Dirgantara di kawasan Pancoran Jakarta.
Dalam persemiannya yang dihadiri pula oleh Pejabat Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono, Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Agus Burhan, dan sejumlah seniman dan pengamat karya patung dan lukisan, ketiga patung paling monumental tersebut dibuatkan miniaturnya dan dipajang di Galeri Griya Seni Hj Kustiyah Edhi Sunarso. 
Dalam sambutannya, KPH Indrokusumo mewakili Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam IX mengatakan, griya seni sebagai salah satu museum patung dan lukisan, diharapkan bisa memberi manfaat dan informasi serta pengetahuan sejarah bagi masyarakat luas. Sebagai museum, katanya, Griya Seni tersebut diharapkan mampu berperan dalam mengembangkan pengetahuan masyarakat secara lebih edukatif, inspiratif dan rekreatif.
Namun ada hal penting lain dalam peresmian pembukaan Griya Seni tersebut, yaitu dikembalikannya patung berjudul ‘Kelaparan’ dari pihak Edhi Sunarso, kepada pihak negara yang dalam hal ini diwakili oleh KPH Indrokusumo. Patung berjudul kelaparan berbentuk manusia tanpa baju dengan tangan mendekap perut, dikembalikan kepada negara karena sudah termasuk benda cagar budaya. Edhi Sunarso mengatakan, patung yang dibuat pada tahun 1965 tersebut menjadi bagian cagar budaya karena sejak pembuatannya dipasang di halaman depan Gedung DPRD DIY, sebagai monumen peringatan kepada para wakil rakyat.
Griya Seni Hj Kustiyah Edhi Sunarso dibangun berlantai dua. Dalam ruang griya seni itu tersaji sebanyak 36 lukisan karya (alm) Kustiyah yang tak lain adalah isteri Edhi Sunarso, 34 patung dan sekitar 10 patung lainnya yang dipajang di luar ruangan griya seni tersebut. Kecuali itu, juga ditampilkan sebanyak 71 foto bersejarah, yang menunjukkan perjalanan karir Edhi Sunarso sebagai seniman patung. Termasuk foto-foto saat pembuatan Patung Selamat Datang juga ditampilkan sebagai bagian dokumentasi paling penting di griya seni tersebut.
Berkait tiga patung besar dan penting seperti Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat dan Monumen Pancoran, Edhi Sunarso mengatakan, pada tahun 1960-an Presiden Soekarno datang sendiri ke rumahnya yang kini menjadi griya seni dan memintanya untuk membuat Patung Selamat Datang untuk dipasang di Jakarta. Patung tersebut harus dibuat dengan perunggu dengan ketinggian 17 meter, dengan rincian tinggi kaki sampai tangan yang melambai 7 meter dan tinggi kaki patung mencapai 10 meter. Patung itu dibuat untuk menyambut para tamu Asian Games IV pada tahun 1962 yang diadakan di Jakarta.
“Saat itu saya belum pernah membuat patung setinggi itu. Tapi, Bung Karno begitu percaya dan memaksa saya untuk bisa. Dia bilang, revolusi itu butuh keberanian dan tidak boleh coba-coba,” kata Edhi, mengenang peristiwa di tahun 1960-an itu, sembari mengimbuhkan jika pembangunan patung tersebut dirasa perlu untuk menunjukkan kebesaran bangsa ini pada waktu itu. 
Miniatur Patung Selamat Datang

Kph Indrakusumo mengamati salah satu patung

Pengunjung museum
MINGGU, 20 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...