Musim Kemarau Petani di Lampung Alih Profesi jadi Penambang Pasir

Penambang pasir tradisional
LAMPUNG — Musim kemarau berkepanjangan yang mengkibatkan sebagian petani di wilayah Sebanjar Kecamatan Penengahan beralih profesi menjadi pencari pasir. 
Salah satu warga Sebanjar, Supandi (40) bersama dua rekannya Suranto (38) dan Sodikin (41) bahkan sejak pagi sudah berada di pinggir sungai Way Pisang untuk menambang pasir dengan cara manual. 
Supandi mengungkapkan pencarian pasir secara manual tersebut dilakukan menggunakan karung dam wadah dari bambu yang dipakai mengambil pasir di dasar sungai. Pasir tersebut diusung di pundak dalam keadaan basah dan ditumpahkan di lokasi pengumpulan pasir di tepian sungai.
“Kami biasanya bekerja di sawah dan upahan memetik jagung, tapi sawah kering, jagung juga sedang kering sehingga pilihan kami hanya mencari pasir untuk bertahan hidup,”ungkap Supandi saat ditemui Cendana News di pinggir Sungai Way Pisang, Jumat(25/09/2015).
Pekerjaan baru yang dilakukan Supandi bersama kedua rekannya tersebut dilakukan saat kondisi air sungai Way Pisang mengalami penurunan debit. bahkan di beberapa bagian kali air terlihat tidak begitu dalam. Supandi sengaja mencari pasir di lokasi sungai berkedalaman 1 meter karena lokasinya berada di cekungan dan banyak pasir.
Pasir yang ia tambang secara manual di dasar sungai merupakan pesanan dari seorang warga yang berniat membangun rumah sebanyak 7 rit pasir seukuran kendaraan L300 bak terbuka. Untuk usahanya tersebut seukuran kendaraan L300 dibeli oleh pemilik rumah yang akan membangun dengan harga Rp150ribu sehingga untuk sebanyak 7 rit ia akan memperoleh uang sebesar Rp1.050.000,- dan akan dibagi sebanyak pencari pasir dengan rata rata sebesar Rp350ribu.
Satu rit pasir diakui salah satu rekan Supandi, Sodikin, diperoleh dari sekitar 60 karung pasir yang diangkut dari dasar sungai ke pinggir sungai yang berjarak kurang lebih 10 meter. Ketiganya berangkat setiap hari sejak pukul 07:30 WIB pagi hari dan akan pulang pada pukul 16:00 WIB. Permintaan sebanyak 7 rit pasir tersebut ungkap Sodikin bisa ia penuhi dalam sepekan atau kurang tergantung kondisi badan serta kecepatan dalam mengangkat pasir dari dasar sungai ke bantaran sungai.
“Target kami seminggu bisa selesai tapi lebih cepat juga lebih bagus karena semakin cepat kami penuhi target kami juga akan semakin cepat mendapat uang,”ungkap Solikin.
Dengan pekerjaan baru tersebut, ketiganya mengaku mendapatkan uang muka separuh sebagai uang untuk keperluan keluarga selama ditinggal bekerja dan sisanya akan diberikan saat pekerjaan mereka sudah selesai. Pasir yang sudah dikumpulkan di bantaran sungai akan diambil dengan kendaraan L300 saat pasir kering dan diangkut ke rumah pemesan.
Usaha yang dilakukan warga Sebanjar sebagai pengganti penghasilan saat musim kemarau tersebut sudah ditekuni ketiganya sejak beberapa tahun lalu. Sementara pada musim bertani ketiganya menggarap sawah serta lahan yang mereka miliki. Jika satu pemesan sudah bisa dipenuhi maka para pemesan lain akan memenuhi pesanan dari pencari pasir lainnya tak hanya untuk bangunan rumah tapi juga untuk pembangunan sarana lain.
Dari penghasilan dari penjualan pasir tersebut Sodikin dan kedua rekannya mengaku bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa untuk bertahan hidup serta untuk membiayai sekolah anak-anaknya selama musim kemarau ini.
Pantauan Cendana News tak hanya ketiga warga Sebanjar tersebut yang mencari pasir sebagai profesi tambahan saat musim kemarau. Beberapa warga lain diantaranya kaum wanita pun berada di aliran Sungai Way Pisang mencari pasir dan sebagian mencari batu kali yang akan digunakan untuk batu split. Penambangan pasir dan batu secara manual menjadi pilihan warga saat warga tak bisa mengandalkan hidup dari hasil pertanian.
JUMAT, 25 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...