Nasib Dan Perjuangan PKL Dikerasnya Kehidupan Jalanan Ibukota

JAKARTA — Sejak tahun 1980 Ibu dari tiga anak dan enam orang cucu ini sudah mengadu nasib sebagai pedagang kaki lima (PKL) di pasar loak kebayoran atau dulu dikenal dengan pasar loak kebayoran lama.
Memulai apa yang dimilikinya sekarang dengan berdagang baju bekas,  rokok dan minuman ringan,  sampai akhirnya saat ini Rahmi berdagang aksesoris handphone baik bekas maupun baru. Ia berdagang tepat di bawah fly-over kebayoran.
Penghasilan Rahmi per hari terus meningkat sejak awal ia mulai berdagang,  bahkan sampai tahun lalu ia bisa mendapatkan profit 100,000 rupiah per hari. Namun semua kisah manis Rahmi harus berakhir saat dibongkarnya pembatas jalan untuk mengurai kemacetan agar semua kendaraan bisa langsung memutar arah tanpa harus menyusuri jalan masjid Al-Huda yang sudah sesak dengan perumahan penduduk yang semakin padat tiap tahunnya.
Saat ini ia paling besar hanya bisa mendapat keuntungan penjualan 50,000 rupiah per hari. Namun jumlah itupun tidak stabil setiap hari ia dapatkan. Contohnya hari ini,  tanggal 17 September 2015 sejak siang sampai malam ia baru mendapat omset 4,000 rupiah (bukan profit).
” Dibongkarnya pembatas jalan adalah penyebab menurun serta tidak stabilnya pendapatan saya sehari-hari. Saya mengerti ini untuk mengurai kemacetan, tapi saya juga perlu makan setiap hari, ” keluh Ibu yang memulai usahanya sejak ia masih gadis (belum menikah).
Tampaknya Rahmi memang mengetahui betul seluk-beluk fly-over kebayoran. Ia bahkan sempat menjelaskan kepada Cendana News perihal salah satu bagian jalan yang dulunya adalah makam keramat.
” Jaman dulu disamping warung nasi uduk pecel ayam itu,  tepat di putaran jalan ada tiga makam keramat warga keturunan cina. Sepertinya dipindahkan entah kemana,  karena kejadiannya cepat sekali,  malam masih ada lalu keesokan harinya sudah rata dan siap dibangun jalan, ” kenang Rahmi mengisahkan.
Kekhawatiran Rahmi mengenai penertiban PKL di kawasan kebayoran merupakan hantu yang menghampirinya setiap hari. Revitalisasi fly-over kebayoran serta pemancangan tiang-tiang jalan yang baru dengan alat-alat berat membuatnya selalu berpikir bahwa jika semua proyek selesai maka yang terakhir dibereskan pemerintah adalah para pedagang,  termasuk dirinya.
” Jika akhirnya harus direlokasi mengapa tidak dari dulu saja. Sekarang jika kami kena relokasi atau kemungkinan terburuk yaitu pembongkaran paksa tanpa ada solusi kedepannya,  itu sama saja membunuh mata pencaharian kami yang sudah puluhan tahun disini, ” papar Rahmi.
Rekan Rahmi seorang pedagang rokok asongan bernama Gondo yang dari awal mengikuti pembicaraan kami dengan Rahmi bahkan mulai angkat suara.
” Saya mencoba berpikir positif saja,  yaitu pemerintah hanya ingin memperlebar jalan,  bukan melenyapkan PKL seperti saya dan Rahmi,  lagipula sebenarnya kami disini hanya ada saat malam hari, maka untuk apa di ganggu, ” timpal Gondo.
Fenomena kaum urban yang mengais rejeki di kerasnya jalanan ibukota sepertinya tak akan pernah berakhir manis. Namun yang pasti,  Rahmi masih bisa menikmati uang Rp.4.000 sebagai pelipur lara sambil terus menerka bagaimana nasib dirinya esok hari. Inilah kenyataan hidup yang ada disekitar gedung-gedung pencakar langit ibukota nan megah.

SABTU, 19 September 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...