Normalisasi Banjir Kanal Timur Semarang Butuh Anggaran Rp.1,2 Triliun

SEMARANG — Mengantisipasi banjir dan memperbaiki sistim irigasi, Pemerintah Kota Semarang mempercepat program normalisasi banjir kanal timur dan diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp. 1,2 triliun.
Banjir kanal timur dimulai dari wilayah pintu air Pucang Gading hingga muara di wilayah Semarang Utara, sebagai kebutuhan utama penanganan terpadu penanganan banjir dan pengelolaan air irigasi, maka harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari hilir sampai ke hulu.
Jika melihat anggaran sebesar itu, proses normalisasi banjir kanal timur akan dilakukan secara bertahap, tahap pertama normalisasi sungai dari jembatan Jalan Majapahit hingga muara di daerah Tambaklorok. Diperkirakan membutuhkan anggaran antara Rp. 400 miliar sampai 500 miliar.
Untuk tahun 2016, Pemkot Semarang akan menganggarkan dan pendamping sekitar 500 juta, anggaran tersebut digunakan untuk identifikasi dampak masalah sosial yang timbul, termasuk penanganan pemukiman liar di sepanjang wilayah bantalan sungai.
Kepala Bidang Perencanaan Bappeda Kota Semarang, M. Farchan mengatakan, untuk Amdal menjadi kewenangan Pemprov Jawa Tengah, sedangkan pembangunan fisik tahap pertama diharapkan bisa dilaksanakan awal tahun 2017 dibantu Pemerintah Pusat.
Farchan menambahkan, persoalan banjir kanal timur sebenarnya bukan hanya permasalahan kota Semarang saja, mengingat hulu dari kanal tersebut berada di wilayah Kabupaten Demak, persoalan tersebut harus ditangani bersama dengan Pemprov Jawa Tengah.
Diperkirakan empat kecamatan di kota Semarang akan dilalui banjir kanal timur, diantaranya Kecamatan Tembalang, Semarang Timur, Gayamsari dan Semarang Utara. Sedangkan di wilayah muara saat ini direncanakan penataan dengan program Kampung Bahari Tambaklorok.
Sedangkan normalisasi banjir kanal timur diperlukan untuk mengurangi banjir dan pasang air laut ( rob ) pada sistem drainase di wilayah Semarang Tengah, sementara itu sedimen banjir kanal timur kondisinya sekarang sangat memprihatinkan.
Pada jaman Pemerintahan Kolonial Belanda, banjir kanal barat dan banjir kanal timur merupakan satu paket solusi mengantisipasi banjir dan rob, namun seiring berjalannya waktu rupanya telah terjadi pergeseran dalam fungsi maupun pemanfaatannya.
Saat itu pada awalnya, kedua sistem drainase tersebut hanya difungsikan untuk mengalirkan luapan banjir dari Gunung Ungaran ke laut Jawa, sesuai dengan rencana kedua sungai tersebut tidak dipergunakan sebagai pembuangan iair yang berasal dari dalam kota Semarang.
Sekarang permasalahannya menjadi kompleks dan parah, banjir kanal timur mengalami sedimentasi sangat tinggi, sehingga kapasitas alur sungai menjadi berkurang. Selain itu terjadi penyempitan bantalan sungai dikarenakan adanya bangunan liar di sepanjang jembatan Citarum sampai jembatan Kaligawe.
RABU, 9 September 2015
Jurnalis       : Eko Sulestyono
Foto            : Eko Sulestyono
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...