Omset Pedagang Peyek Belut Belum ‘Semegah’ Gedungnya

Pusat kuliner Godean
YOGYKARTA — Pasar Godean di kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, terkenal dengan komoditas makanan khasnya berupa peyek belut. Jenis binatang yang hidup di dalam lumpur sawah ini, menjadi salah satu komoditas andalan dan ikon pariwisata. Namun, nasib para pedagang sekarang tak seindah ikon wisata. Mereka saat ini mengaku hanya bisa bertahan dari sepinya pembeli yang dari hari ke hari semakin menyiksa.
Sejak tahun 1985, Pasar Godean sudah sangat dikenal sebagai sentra peyek belut. Satu jenis makanan khas yang gurih renyah dan bergizi itu hanya ada di Pasar Godean. Tak heran, jika sejak tahun itu Pasar Godean menjadi tujuan banyak wisatawan lokal yang ingin mencicipi gurihnya peyek belut. Semenjak awal, mereka para pedagang peyek belut hanya membuka kios semi permanen di pinggir jalan di seputaran Pasar Godean, tepatnya di timur perempatan Pasar Godean. Namun sejak tahun 2014, mereka dilokalisasir. Sebuah tempat yang kemudian diberi nama Pusat Kuliner Belut Godean Sleman, lalu menjadi tempat bagi mereka untuk sehari-hari bedagang peyek belut.
Namun, ternyata kepindahan mereka ke pusat kuliner yang dibangun cukup megah sejak tahun 2014 itu, tidak membuat penghasilan mereka ‘semegah’ waktu masih berjualan di pingir jalan. 
Sri Handayani (35), salah seorang pedagang peyek belut yang ditemui Minggu (27/9/2015) siang mengatakan, sejak dipindahkan ke lokasi khusus pusat kuliner belut, omset penjualannya menurun hampir 80 persen. Bahkan sampai saat ini, katanya, dia hanya bisa bertahan dan tak bisa menyebutkan jumlah omsetnya lantaran dalam setiap harinya tidak pasti terjual.
Sri mengatakan, jika keadaan itu memang dipengaruhi oleh lokasi pusat kuliner yang terbilang masih baru dan terkesan khusus, sehingga para pembeli dari warga sekitar merasa enggan datang. Sementara itu, menurutnya lagi, upaya dinas terkait untuk segera mengangkat pamor pusat kuliner belut juga sudah bagus. 
Namun dari pengalaman Sri, terlalu banyak event yang diselenggarakan di Pusat Kuliner Belut, ternyata jutsru tak berdampak positif terhadap tingkat penjualan belut gorengnya. Karena itu, Sri pun merasa tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bisa bertahan sembari bekerja sampingan lainnya.
Hal demikian juga diungkapkan oleh pedagang peyek belut lainnya, Ngatini (44). Dia mengaku terpaksa harus menjadi tukang sapi kontrak di Pasar Godean, untuk menutupi penghasilannya yang sangat berkurang semenjak menempati kios peyek belut baru di Pusat Kuliner Belut Godean Sleman. Sama halnya dengan Sri, Ngatini pun bingung ketika ditanya perihal jumlah omsetnya.
Namun demikian menurutnya, harga perkilo peyek belut saat ini memang tergolong mahal. Mencapai Rp 120 Ribu untuk peyek belut biasa dan Rp 130 Ribu untuk peyek belut super. Sri mengatakan, jika harga itu memang tergolong tinggi, karena pasokan belut mentah dari Jawa Timur juga mahal. 
“Pasokan belut dari lokal tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan sekitar 30 pedagang di sini Pusat Kuiner Belut ini, karena belut sampai sekarang belum bisa dibudi daya. Pernah ada upaya untuk membudi dayakan belut, namun upaya itu tidak berhasil. Akhirnya, kami mengandalkan belut dari luar Yogyakarta, seperti dari Jawa Timur”, pungkasnya. 
Ngatini dan Sri Handayani

Deretan kios peyek belut
MINGGU, 27 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...