hut

Pedagang Alat Musik dan Musisi Jalanan Mulai Kehilangan Lahan Usaha

JAKARTA — Musik adalah salah satu bahasa universal pemersatu seluruh  manusia. Bahkan tanpa musik dunia ini terasa hambar,  bagai masakan tanpa garam. Sulit membayangkan untuk bisa menikmati makanan yang hambar.
Kehidupan di Kota Jakarta yang keras harus dijalani dengan sabar oleh para komunitas pengrajin sekaligus pedagang alat musik rakitan di kawasan Pasar Poncol Jakarta Pusat. Hal ini berkaitan langsung dengan agak menurunnya pemesanan dagangan mereka dari para seniman jalanan atau biasa disebut oleh penguasa dengan pengamen.
Dayat,  penjual alat musik asal Tasikmalaya mengakui kehilangan banyak pelanggan belakangan ini. Namun dia tetap bertahan dan berharap akan ada lagi kreatifitas lain dari para seniman jalanan. 
” Biasanya rakitan drum, gitar kayu elektrik yang dihubungkan dengan batre atau aki cukup lancar. Namun sejak adanya busway, maka berkurang pula penumpang bus umum lainnya,  sehingga teman-teman seniman jalanan banyak yang tidak bisa membeli alat musik rakitan lagi untuk mencari menjual suara di bus umum, ” jelas Dayat kepada Cendana News, Senin (07/09/2015).
Bahkan untuk servis alat-alat musik rakitanpun sudah mulai berkurang. Dan hal ini membutuhkan kesabaran bagi para pedagang alat musik rakitan untuk dapat menjual barang-barang dagangannya.
Namun begitu,  menurut Dayat masih ada sesekali orang membeli alat musik rakitan,  namun untuk mengamen di kawasan-kawasan wisata rakyat seperti Taman Fatahillah kawasan Kota Tua Jakarta.
Fenomena seniman jalanan atau pemusik jalanan,  atau pengamen memang tidak bisa lepas dari para pedagang alat musik rakitan,  sehingga jika salah satu hilang maka putaran roda yang biasanya lancar akan tersendat. Keadaan inilah yang terjadi sekarang dan bagaimanapun juga harus dihadapi oleh mereka semua,  yaitu para seniman jalanan dan pedagang alat musik rakitan.
Seperti yang diungkapkan Robi,  seorang pemusik jalanan di Taman Fatahillah kawasan Kota Tua,  ia dan rekan-rekannya sekarang hanya mengandalakan alat musik sekaligus memperbaiki yang sudah lama. Sudah tidak memungkinkan untuk membeli yang baru. 
” Wajar menurut saya keadaan seperti ini terjadi,  karena dulu kita bisa menjual suara di bus umum dan kereta api,  namun sekarang di busway dan commuter line sudah tidak bisa lagi, ” urai Robi yang diamini rekan-rekannya.

SENIN, 7 September 2015
Jurnalis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...