Pembalakan Liar, Kerusakan Hutan Rinjani Capai Puluhan Hektar

MATARAM — Kerusakan hutan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat tidak hanya terjadi di kawasan di Kabupaten Dompu, Kabupaten Sumbawa dan hutan Sekaroh, Kabupaten Lombok Timur, tapi juga telah memasuki kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Pulau Lombok.
“Kerusakan hutan di kawasan TNGR sekarang ini sudah cukup parah akibat pembalakan liar, luasannya mencapai 50 hektar lebih, padahal kita tahu semua Rinjani selain merupakan kawasan konservasi nasional, juga merupakan sumbember mata air utama yang menghidupi jutaan masyarakat Pulau Lombok” kata Ketua Gerakan Masyarakat Pecinta Alam NTB, Muhammad Juaini di Mataram, Kamis (10/9/2015).
Menurut Juaini, kalau hutan di kawasan Rinjani tidak segera diselamatkan, bisa – bisa mata air yang terdapat di sana bisa hilang, bagaimana kemudian dengan nasib jutaan masyarakat lombok termasuk puluhan ribu areal pertanian milik masyarakat.
Karena itu, Koalisi masyarakat peduli dan pecinta alam dan lingkungan mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat menyelesaikan kasus perambahan dan pembalakan liar di kawasan hutan Rinjani yang telah menimbulkan kerusakan parah dengan menghilangnya berbagai jenis pohon yang selama ini menjadi penyanggah hutan dan penyimpan air.
Sementara itu Direktur Yayasan Samanta NTB, Dwi Sudarsono mengatakan, lambannya penanganan kasus perambahan hutan di kawasan Rinjani tidak menutup kemungkinan, akan semakin meluas dan tentu akan mengakibatkan dampak yang serius, apabila pemerintah tidak segera mengambil tindakan konkrit.
Dwi menyatakan bahwa ada 4 alasan mengapa TNGR harus dipertahankan keberadaannya. Pertama, TNGR merupakan sumber ekonomi masyarakat Lombok. Kedua, nilai potensi sumberdaya alam TNGR mencapai Rp. 5 trilyun. Ketiga, TNGR sumber keanekaragaman hayati bagi NTB. Keempat, TNGR merupakan bagian integral budaya masyarakat Lombok.
Selain itu, TNGR saat sedang kencang-kencangnya dipersiapkan pemerintah menjadi Geopark dunia, ini kan sangat kontras dengan upaya menjaga kelestarian yang dilakukan pemerintah yang terkesan abai. Perusakan hutan Rinjani di sekitar Desa Bebidas akan menciderai keberadaan Rinjani sebagai geopark.
“Harus ada tindakan tegas dari pihak balai TNGR, Pemda NTB bersama aparat kepolisian, kalau tidak ingin melihat kerusakan hutan di kawasan Rinjani lebih parah lagi. Pasal 8 UU No. 18 tahun 2013 sudah sangat tegas mengatur tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan,” tegasnya.
Dikatakan, kasus perambahan dan perusakan hutan TNGR di sekitar Desa Bebidas jelas merupakan tindak pidana. Tidak ada alasan bagi Pemerintah dan Pemda membiarkan kasus perambahan hutan ini terjadi.
KAMIS, 10 September 2015
Jurnalis       : Turmuzi
Foto            : Turmuzi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...