Pembangunan Tol Sumatera, Tanah Kavlingan Jadi Ladang Bisnis

LAMPUNG — Rencana pembangunan Jalan Tol Sumatera (JTS) terus dilakukan dari mulai titik nol Bakauheni. Proyek yang akan menghubungkan Bakauheni ke Terbanggi Besar di Lampung Tengah.Peluang tersebut dimanfaatkan oleh beberapa pemilik uang untuk menjual tanah. Tanah yang dibeli dari warga selanjutnya dibuat tanah kavling dengan berbagai ukuran untuk dijual kembali dengan sistem kavlingan. Beberapa tanah yang dijual kavlingan tersebut berada di Bakauheni yang berdekatan dengan titik nol rencana jalan tol, di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Natar dan beberapa di daerah lain yang berada di jalur tol.

Salah seorang warga yang memanfaatkan momen terebut adalah Basroni, warga Desa Klaten Kecamatan Penengahan yang mengaku memiliki tanah hampir setengah hektar dan selanjutnya dijual kembali dengan sistem kavlingan.
“Saya kasian dengan banyaknya warga yang nantinya terkena proyek jalan tol sehingga saya kavlingkan tanah yang ada, beberapa sudah dipesan oleh warga yang terkena proyek tol Sumatera,”ungkap Basroni kepada Cendana News, Rabu (2/9/2015).
Menurut Basroni, tanah kavling yang dijualnya berukuran 13 meter x 23 meter atau seluas 299 meter persegi seharga Rp17 juta. Ia mengungkapkan niatannya untuk membantu para pemilik tanah yang “tergusur” oleh rencana pembangunan jalan tol. Bahkan ia menyiapkan sebanyak 6 kavling yang mulai diminati masyarakat.
Lain halnya dengan Basroni, seorang warga lain Buyung (39) beberapa minggu lalu ditawari tanah kebun yang masih terdapat tanam tumbuhnya seluas sekitar 3 hektar lebih. Tanah tersebut ditawarkan sang pemilik kepada Buyung sebesar Rp.250 juta. Buyung mengungkapkan saat ditawari tanah tersebut ia mengaku bisa dipergunakan untuk kavlingan.
“Saya masih pikir pikir dulu terkait tawaran tersebut tapi sedang mencari pembeli lain yang sekiranya memiliki uang karena peluang untuk tanah dan properti memang masih sangat terbuka di sini,”ungkap Buyung yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil tersebut.
Lokasi yang strategis menjadi alasan para pemilik modal untuk membeli tanah dan kemudian mengkavling kavlingkan. Selain untuk dijual dalam bentuk kavlingan beberapa pemilik tanah di Bakauheni bahkan membuat bangunan bangunan rumah toko (ruko) yang sengaja akan dikontrakkan kepada warga yang nantinya terkena imbas jalan tol.
Wayan (45) warga Desa Bakauheni mengaku membangun sebanyak 3 kontrakan. Bahkan sudah ada yang memesan terutama warga Bakauheni yang positif terkena proyek jalan tol di Bakauheni. Kontrakan tersebut menurut Wayan sangat diperlukan terutama bagi warga yang belum memiliki tanah.
“Beberapa warga kan ada yang belum memiliki tanah bahkan tempat tinggal sehingga sebelum mendapat tanah dan bangunan mereka masih bisa mengontrak di sini,”ungkap Wayan.
Pengerjaan jalan tol yang saat ini sedang berlangsung dari pantauan, masih berlangsung di Bakauheni dengan penimbunan di sepanjang tanah milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP). Hingga kini bahkan warga mengaku belum ada kejelasan terkait besaran ganti rugi yang akan diperoleh, sehingga warga masih belum berniat untuk pindah dari rumah mereka meskipun sebagian besar rumah warga sudah diberi tanda “silang merah” sebagai tanda rumah dan tanah tersebut terkena jalan tol.
“Bagaimana mau pindah mas, besaran nilai ganti rugi belum kami ketahui dan jika memang nanti sudah ada kepastian besaran dan kami terima baru kami bisa pindah karena memang saat ini kami belum punya uang untuk pindah,”ujar Herman warga Bakauheni yang berada di Bakauheni dan terkena dampak langsung jalan tol.
Sebelumnya di bulan Agustus Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus berupaya mempercepat pelaksanaan pembangunan jalan tol Lampung ruas Bakauheni – Terbanggi Besar.
Perkembangan pembangunan dibahas secara menyeluruh dalam rapat yang dipimpin Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi, (14/8/2015) lalu. Rapat ini membahas capaian atas persiapan pembangunan yang dilaksanakan Tim I dan Tim II. Percepatan Persiapan Pembangunan Jalan Tol Lampung.
Rapat tersebut dihadiri Direktur Pengadaan Lahan Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kepala Percepatan Pembangunan Jalan Tol Sumatera Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Suseta, Ketua Tim I dan Tim II Percepatan Persiapan Pembangunan Jalan Tol Lampung Adeham dan Tauhidi, serta perwakilan BPN Lampung Selatan, BPN Lampung Tengah dan BPN Pesawaran dan anggota tim.
Tim I melaporkan telah melaksanakan berbagai tahapan hingga terbitnya Surat Keputusan Gubernur Lampung untuk 11 kecamatan pada 57 desa yang wilayahnya dilewati jalan tol. Dan saat ini telah terealisasi hingga 97% atau sepanjang 100,7 km dari 104,7 km.
Sehingga masih tersisa dua desa lagi, karena adanya perubahan titik koordinat patok. Yakni yang bersentuhan dengan akses pintu keluar rencana perpanjangan landasan pacu Bandara Raden Intan II.
Ketua Tim I yang juga Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung Adeham menjelaskan, pembuatan badan jalan tol telah dimulai di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan sepanjang 0,5 km di lahan ASDP Bakauheni. Sedangkan di Desa Sabah Balau, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan sepanjang 2,9 km di lahan perkebunan PTPN VII Lampung.
Selain itu, sambung Adeham, telah dilakukan mobilisasi alat berat dan pembuatan kantor di lokasi kegiatan oleh empat BUMN, yakni PT Perumahan Pemukiman (PP), PT Waskita Karya, PT Adhi Karya, dan PT Wijaya Karya serta selaku koordinator PT Hutama Karya.
“Adapun untuk pengukuran bidang tanah telah dilakukan di 2 desa yaitu Desa Bakauheni dan Desa Sabah Balau,” ungkap Adeham melalui rilis yang diterima.
Sementara itu, Ketua Tim II yang juga Asisten Bidang Pemerintahan Pemprov Lampung Tauhidi menjelaskan tahapan pelaksanaan pengadaan tanah yang dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional Provinsi Lampung. Dan juga BPN Kabupaten Pesawaran telah melaksanakan pengukuran dan pemetaan lahan di enam desa.

RABU, 2 september 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...