Penen Ugadi, Titiek Ingatkan di Era Pak Harto Indonesia Swasembada Pangan

YOGYAKARTA — Sabtu (12/9/2015), warga dusun Samberembe, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, melalukan panen raya udang galah yang dibudidayakan dengan sistem mina ugadi, udang galah dan padi yang merupakan proyek percontohan pemerintah bidang pertanian. 
Warga dusun Samberembe yang tergabung dalam Kelompok Tani Mina Muda, akhirnya berhasil menjalankan proyek percontohan dari program pemerintah bidang pertanian dan  perikanan dengan memanen hasil budi daya udang galah jenis GI Macro II dengan sistem mina ugadi. Hasilnya, luar biasa. Dengan sistem mina ugado tersebut penghasilan petani meningkat 50 persen. Tak heran, dari hasil program percontohan tersebut, masyarakat setempat optimis melanjutkan sistem mina ugadi.
Panen raya Udang galah hasil proyek percontohan itu, pun ditinjau langsung oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Bidang Perikanan dan Kelautan, Siti Hediati Soeharto bersama Plt Bupati Sleman, Gatot Saptadi, dan sejumlah pejabat kedinasan terkait. Namun Gubernur DIY Sultan HB X yang sedianya dijadwalkan hadir, terpaksa batal karena faktor kesehatan.
Terhadap optimisme para petani, Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar yang akrab disapa Titiek Soeharto sangat berharap jika bangsa ini akan kembali bisa menjadi negara swasembada pangan. Pemerintah sendiri, katanya, sedang berupaya keras meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Selain untuk menambah devisa negara,  juga untuk pemenuhan kualitas gizi masyarakat, dan lebih penting lagi menambah kesejahteraan petani. 
“Ini memang bukan hal yang mudah, karena dibutukan kemampuan SDM, benih dan ketersediaan air dan lahan. Komisi IV DPR RI sendiri telah menyetujui APBNP 2015 sebesar Rp.10,5 Trilyun, yang dialokasikan ke bidang perikanan sebesar Rp 1,36 Trilyun,” ucap Titiek.
Titiek juga mengingatkan jika di zaman Pak Harto Indonesia pernah menerima penghargaan sebagai negara swasembada pangan dari FAO PBB, sehingga sekarang ini seharusnya negara bisa swasembada lagi. 
Sementara itu, Plt Bupati Sleman, Gatot Saptadi dalam penjelasannya mengatakan, pengolahan kawasan perikanan di wilayah Sleman, Yogyakarta, dilakukan dengan sistem kelompok agar transfer ilmu dan teknologi bisa dilakukan efektif. Demikian pula dengan proses pendampingan yang dilakukan. Menurut Gatot, sebanyak 66 penyuluh terdiri dari penyuluh pertanian dan perikanan selama ini bekerja mendampingi para petani dengan maksimal.
“Dengan keseriusan pemerintah, petani dan semua pihak, jumlah produksi ikan di Sleman meningkat signifikan. Demikian pula dengan jumlah kelompok petani yang saat ini tercatat ada 512 kelompok tani yang tersebar di berbagai wilayah di Sleman,” jelas Gatot.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Mina Muda mengungkapkan, jika dengan sistem mina ugadi tersebut, membuat penghasilan petani bertambah signifikan. Selain memanen padi, juga bisa memanen udah galah yang harga perkilonya bisa mencapai Rp 70ribu. 
Hal itu dibenarkan oleh Hary Krettiawan, peneliti Badan Litbang Perikanan dan Kelautan Kementrian KPRI, selaku pendamping teknis Kelompok Tani Mina Muda. Menurutnya, dengan luas lahan 1000 meter yang ditanami padi hanya akan menghasilkan sekitar 500 kilo gabah jenis padi mandala senilai kira-kira Rp 3 Juta. Namun dengan tambahan udang galah di lahan sama dengan hasil panen 3 bulan sekali 80 kilo udang, penghasilan petani bertambah Rp 3 Juta lebih.
Usai sambutan Titiek yang disambut antusiasme warga dan tamu undangan, Titiek beserta tamu undangan didaulat melakukan panen raya udang galah. Sesudah acara tersebut, Titiek dijadwalkan mengunjungi sentra peternakan sapi Kelompok Ternak Sapi Andini Manggambar di dusun Mulungan Kulon, Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, disambung dengan penyerahan Bansos PUMM PB di dusun Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. 

SABTU, 12 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...