hut

Pengganti Nasi, Keluarga ini Olah Ubi Kayu jadi Gaplek dan Tiwul

LAMPUNG — Musim kemarau panjang yang mengakibatkan menurunnya panen padi dan bahkan mengakibatkan harga beras naik tak membuat keluarga ini kehabisan akal. Ngadimun (45) bersama isterinya Sri (44) dan sang Anak Narso (28) mengakali dengan mengolah ubi kayu atau singkong menjadi makanan pengganti nasi sekaligus makanan pokok, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan akan karbohidrat.
Ngadimun mengaku sudah mulai mengolah singkong sejak tinggal di Pulau Jawa dan bahkan hingga merantau ke Pulau Sumatera. Tanaman ubi kayu yang ditanamnya dicabut kemudian dikupas untuk dijemur di bawah terik matahari. Singkong singkong yang telah dikupas tersebut selanjutnya dibelah belah dalam ukuran tertentu kemudian dijemur dalam wadah berupa tampah terbuat dari bambu.
Potongan singkong yang sudah dikupas dijemur hingga beberapa hari sampai kering bahkan sampai satu minggu. Menggunakan tampah dan karung singkong yang sudah kering tersebut bisa menjadi gaplek.
“Kalau cuaca terik seperti hari ini singkong yang diolah akan cepat kering dan kemudian setelah kering dikumpulkan dalam karung, jika belum akan diolah menjadi butiran tiwul maka akan disimpan dalam bentuk gaplek kering,”ungkap Ngadimun kepada Cendana News di rumahnya, Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Sabtu (05/09/2015).
Sepanjang musim kemarau ini saat keluarga tersebut sulit mendapatkan beras dan sengaja menyimpan beras untuk diirit, gaplek yang sudah jadi dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan “gatot” atau bahan untuk membuat tiwul. Proses pembuatan tiwul menurut Ngadimun terbilang sederhana. Menggunakan alat berupa alu atau penumbuk gaplek yang sudah kering selanjutnya ditumbuh hingga menjadi butiran halus.
“Butiran halus tersebut selanjutnya dijemur lagi dengan memanfaatkan sinar matahari kemudian dikukus hingga membentuk tiwul menjadi butiran butiran bulat menyerupai beras,”terang Ngadimun.
Keunggulan tiwul yang sudah menjadi bentuk beras menurut Ngadimun butiran tersebut bisa disimpan dalam wadah kedap udara dan bisa tahan berbulan bulan bahkan setahun. Ngadimun mengaku jika sedang tak memiliki beras ia mengaku bisa mengolah tiwul tersebut menjadi makanan pengganti nasi.
Sementara itu sang Kepala Desa di Desa Pasuruan, Kartini, kondisi musim kemarau ini membuat sebagian warga tidak bisa menanam padi. Makanan terbuat dari ubi meski makanan tradisional namun merupakan makanan pengganti nasi disamping bantuan beras Raskin yang masih dibagi oleh desa tersebut.
“Singkong kan ditanam dengan palawija lainnya sehingga bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan, selain dijual bisa dikonsumsi sendiri untuk konsumsi sehari hari,”ungkap Kartini.
Meskipun mengolah Tiwul berbahan singkong tersebut, Kartini mengaku desa tersebut tidak kekurangan pangan. Kreasi dari ubi kayu tersebut hanya sebagai bentuk kreasi warganya dan bahkan Tiwul merupakan makanan yang “langka” saat ini karena sulit diperoleh.
Kandungan karbohidrat yang tak kalah dengan Tiwul bahkan bisa menggantikan beras tersebut diolah menjadi makanan dan disantap dengan lauk pauk seperti ikan gabus, ikan lele yang diberi kuah. Beberapa warung bahkan menjual menu Tiwul sebagai menu yang lebih mahal dari nasi karena cara pembuatan dan pengolahan yang lama.
Kartini pun mengungkapkan cara mengolah makanan tiwul pun dengan lauk-pauk dan sayur lain yang bergizi, yang bisa bersumber dari pangan lokal. Sayangnya, tiwul dan aneka pangan lokal lain yang bisa menjadi alternatif pengganti beras, seperti sagu dan jagung, selama ini dipersepsikan salah sebagai pangan orang yang kekurangan.
Ngadimun bahkan menyiapkan butiran tiwul yang belum diolah dan jika ada yang membeli terkadang dibeli seharag Rp10ribu oleh orang yang ingin memakan tiwul. Biasanya yang mengkonsumsinya adalah orang yang “kangen” makan Tiwul saat masih berada di Pulau Jawa dan tidak sempat mengolah sendiri.
Keluarganya pun mengaku tetap mengkonsumsi beras dan dalam kondisi kemarau seperti ini pilihan untuk membuat Tiwul merupakan cara untuk mencari pelengkap beras. Ia bahkan terkadang mencampurkan tiwul dengan beras sehingga bisa diolah menjadi makanan yang lezat untuk disantap.
Sri bersama anaknya bahkan menawarkan kepada Cendana News gatot serta Tiwul yang sudah dioleah serta menunjukkan tata cara pengolahan Tiwul hingga siap disantap sebagai pengganti nasi dan bisa dimakan bersama dengan lauk pauk seperti ikan asin, ikan goreng.

SABTU, 5 September 2015
Jurnalis       : Henk Widi
Foto            : Henk Widi
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...