Pengusaha Pariwisata Rugi Rp 5 Milyar per Hari Karena Kabut Asap

PADANG — Association of Indonesian Tour and Travel (Asita) mengeluarkan pernyataan keras agar pemerintah benar-benar serius menangangi masalah kabut asap yang sudah melanda pulau Sumatera Selama 10 tahun lebih ini.
“Pemerintah ini seharusnya lebih serius, permasalahan ini sudah 10 tahun lebih, kurang lebih 18 tahun. Dan setiap tahunnya ini menjadi kerugian besar bagi pengusaha pariwisata,” ujar Ketua Umum Asita Asnawi Bahar pada Cendana News Rabu (9/9/2015).
Asnawi meminta kepada pemerintah pusat untuk betul-betul menangani ini kabut asap ini, sebab dampaknya yang sangat dirasakan adalah rakyat kecil.
“Sudah 18 tahun kejadian kebakaran hutan ini dan setiap tahun ada yang terbakar, berarti ada yang salah dalam pengelolaan hal ini. Kenapa selama 18 tahun persoalannya belum lari dari kabut asap. Kami minta pemerintah benar-benar mengawal kondisi ini,” ujarnya.
Sedikitnya kerugian kabut asap di Sumatra Selatan, Jambi dan Riau untuk sektor pariwisata Rp.5Miliar per hari dengan perkiraan jumlah wisatawan mancanegara 5.000 orang yang mendatangi daerah itu.
“Dengan asumsi spending money Rp1 juta saja sehari, dari 5.000 kunjungan wisatawan itu sudah rugi Rp.5 miliar sehari, Kalau peristiwa ini lama, maka luar biasa berdampak pada ekonomi kerakyatan kita dan UMKM,” katanya
Kerugian tersebut belum menghitung provinsi tetangga yang ikut terdampak kabut asap, seperti Sumatra Barat, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Barat. Perkiraannya nilai kerugian yang ditimbulkan akibat bencana itu bisa jauh lebih besar.
Dia menuturkan agar sektor pariwisata tidak lumpuh, pelaku industri tengah mengakali para wisatawan asing tidak membatalkan kunjungan ke Indonesia.
Solusi lain yang diambil oleh pengusaha wisata ini adalah bagaimana caranya grup-grup wisata yang mau datang itu ditunda dulu sampai kondisi udara membaik.
Namun disisi lain kata Asnawi, jika ini ditunda juga akan melibatkan banyak pihak mulai hotel, restoran, bus, termasuk guide-nya.
 “Sementara kita sudah mengalami kerugian yang cukup besar,” katanya.
Industri pariwisata Sumatera terpukul setiap tahunnya dan ia mengkawatirkan target-target kepariwisataan tahun ini tidak tercapai.
“Padahal untuk tahun ini Asita sendiri menargetkan 10 juta kunjungan wisatawan tapi kalau asap berlangsung lama, hal itu tidak akan tercapai,”sebutnya.
Meski bandara Sumatera Barat tidak mengalami masalah, tapi ada keraguan pada wisatawan, karena kabut asap itu tidak sehat berjalan-jalan.
“Tidak mungkin wisatawan itu pakai masker berjalan oleh sebab itu saya minta kepada Pemerintah pusat untuk betul-betul menyelesaikan masalah ini dengan cara memadamkan api,” jelasnya.
Asita, imbuhnya, memfasilitasi kerjasama dengan industri hotel, restoran dan biro perjalanan untuk menjamin tidak ada pembatalan wisman yang berkunjung ke Tanah Air. Strateginya adalah dengan berbagai promo dan penurunan tarif.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Sumbar Reydonnyzar Moenek memastikan kepala daerah di Sumatra melalui forum gubernur memprioritaskan penanganan dan penyelesaian bencana kabut asap.
“Kami sesuai instruksi Presiden juga berkoordinasi dan mempercepat proses pemadaman api dan penanganan dampak kabut asap di sebagian besar Sumatra,” katanya.
Dia mengakui dalam beberapa hari terakhir kualitas udara di daerahnya kian memburuk. Untuk itu, dia sudah menginstruksikan penyiagaan layanan kesehatan di tiap daerah serta pembagian masker kepada masyarakat mengantisipasi ISPA.
RABU, 9 September 2015
Jurnalis       : Muslim Abdul Rahmad
Foto            : Muslim Abdul Rahmad
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...