Percaya Mitos, Warga Dusun Kasuran Tak Berani Tidur di Atas Kasur

YOGYAKARTA — Zaman boleh saja berkembang maju dan serba modern. Namun, soal keyakinan dan kepercayaan tidak serta-merta bisa berubah. Buktinya, warga pedukuhan Kasuran Kulon, Margodadi, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, masih mempercayai mitos lama yang melarangnya tidur di atas kasur kapas. Akibatnya, secara turun-temurun warganya terpaksa tidur hanya beralas tikar.
Kenyamanan kasur dan sofa empuk, bagi warga dusun Kasuran selamanya hanya akan menjadi angan-angan. Bukan karena tak mampu membelinya, namun karena ada mitos lama yang masih diyakini warga setempat tentang larangan tidur di atas kasur. Ny Wartilah, Kepala Dukuh setempat mengatakan, warga yang dipimpinnya sejak tahun 1991 itu, bukannya mempercayai mitos tentang larangan tidur di atas kasur. 
“Tapi, mereka benar-benar mengalami musibah setiapkali tidur di atas kasur. Entah, itu sakit tidak sembuh-sembuh atau ditimpa kemalangan”, ujar Wartilah, saat ditemui di kediamannya, Sabtu (19/9/2015).
Kendati sulit diterima akal, namun begitulah realitas yang terjadi di pedukuhan Kasuran dengan jumlah penduduk 789 jiwa. Dari jumlah tersebut, kata Wartilah, sebanyak 78 jiwa beragama Hindhu dan 23 jiwa beragama Katolik dan Protestan serta 3 lainnya beragama Budha. 
“Mayoritas dari mereka bekerja sebagai buruh dan petani, dan dengan keberagaman agama yang ada, kami tetap bisa hidup rukun saling bantu-membantu”, ujar Wartilah.
Selayang pandang, pedukuhan Kasuran tak ubahnya pedukuhan lain yang berada di pinggiran kota kabupaten. Suasananya sepi, aktivitas warga berjalan pelan, tak sedikit pun menampilkan kesan kesibukan. Pun tak ada hal yang istimewa dari pedukuhan tersebut, kecuali fakta menarik bahwa warganya masih mempercayai mitos lama yang melarangnya tidur di atas kasur.
Berkait mitos larangan tidur di atas kasur, Wartilah menjelaskan jika mitos tersebut berhubungan dengan riwayat syiar Islam Sunan Kalijaga. Nun di kala itu, kata Wartilah, Sunan Kalijaga singgah di pedukuhan Jaron dan oleh warga setempat bernama Ki Jali diberi tempat tidur kasur. Namun, ada salah seorang warga lain bernama Sonto Ndalu yang tidak suka dengan kedatangan Sunan Kalijaga. Sonto Ndalu yang dikenal sakti kemudian mengirim santet kepada Sunan Kalijaga. Dari kejadian itu, Sunan Kalijaga sempat merasa sakit, namun tidak membalas. Kagum dengan kerendahan hati Sunan Kalijaga, Sonto Ndalu kemudian masuk Islam.
Setelah peristiwa itu, Sunan Kalijaga meneruskan perjalanan dan berpesan agar siapa pun jangan tidur di kasurnya yang masih mengandung santet. 
“Bermula dari larangan Sunan Kalijaga itu, warga tidak pernah lagi berani tidur di atas kasur kapas”, ujar Wartilah, seraya mengimbuhkan jika kasur bekas tempat tidur Sunan Kalijaga itu kini masih ada dikubur di komplek pemakaman dusun setempat.
Namun demikian, lanjutnya lagi, penamaan nama pedukuhan Kasuran bukan berasal dari kata kasur. Melainkan, ada kisah lain yang melatar-belakanginya, yaitu kisah pelarian pasukan Pangeran Diponegoro (1825-1830) yang kalah perang dan sempat singgah di pedukuhan Jaron. 
“Kata kasoran itu berasal dari bahasa Jawa, asor, yang berarti rendah atau kalah. Kata itu merujuk kepada keberadaan pasukan Pangeran Diponegoro yang kalah perang itu. Karena lidah Jawa, pelafalan kata asor menjadi kasoran dan menjadi kasuran”, pungkas Wartilah. 


SABTU, 19 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...