Petani di NTT Keluhkan Merosotnya Harga Cengkeh

FLORES — Ditengah meningkatnya animo mananam kembali dalam beberapa tahun terakhir, Petani di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, mengeluhkan jatuhnya harga cengkeh. Hal tersebut antara lain diungkapkan oleh Yan Janggur, salah seorang pekebun cengkeh di Desa Jaong, Kecamatan Satarmese, Jumat (18/09/2015).
“Harga cengkeh informasinya sudah turun sekali, pak. Hasil cengkeh kita sih boleh begini, tapi bagaimana bisa jadi baik kalau harga malah turun lagi. ‘Kan dulu waktu cengkeh belum banyak yang tanam, harganya bagus. Tahun kemarin ‘kan sampai Rp150.000 per-kilogram. Sekarang saya dengar, sudah turun ke Rp70.000 per-kilogram,” ungkap Yan kepada Cendana News.
Yan berharap, Pemerintah Daerah bisa benar-benar memainkan peran untuk mengendalikan harga hasil bumi para petani. Persoalan yang terjadi selama ini di Manggarai, kata dia, harga masih cenderung diatur oleh mekanisme pasar. Pemerintah terkesan tidak memiliki wewenang untuk mengatur.
“Susah memang kalau harga barang petani tidak dilindungi pemerintah. Padahal ‘kan pemerintah punya wewenang untuk atur hal itu. Kita selama ini nyatanya dikuasai pasar,” tuturnya.
Malah hal yang lebih menyakitkan lagi, kata Yan, adalah harga barang pengusaha besar justru terus naik di saat harga hasil bumi petani turun. “Coba harga barang di toko juga ikut turun, baik. ‘Kan supaya imbang. Belum lagi sekarang BBM naik. Kalau beli barang di toko sekarang, uang sepertinya tidak ada nilai,” celoteh Yan.
Hal serupa juga disampaikan oleh seorang pekebun lain, Kasi Tanggur. Dirinya mengakui, hasil cengkehnya kali ini diperkirakan mengalami peningkatan daripada musim panen sebelumnya. Tapi sangat disayangkan, hal tersebut tidak diikuti jaminan harga yang memadai. “Ya sama saja ‘kan kalau harga cengkeh nyatanya turun seperti yang kita dengar sekarang,” ujarnya.
Pantauan Cendana News, animo masyarakat Manggarai untuk menanan cengkeh tampak sangat meningkat beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut diperkirakan mulai terlihat persis saat cengkeh di daerah tersebut mengalami kenaikan harga hingga ratusan ribu rupiah per-kilogram.

JUMAT, 18 September 2015
Jurnalis       : Fonsi Econg
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...