Petani Tembakau Berharap Harga Jual di Tahun ini Bisa Naik

YOGYAKARTA — Petani tembakau di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mulai memasuki masa panen. Mereka berharap harga jual tembakau bisa lebih baik dari tahun kemarin, karena saat ini biaya produksi selama masa tanam dan panen melonjak tinggi. Selain disebabkan oleh biaya upah tenaga kerja yang meningkat, juga karena tuntutan pasar yang membuat para petani tembakau mengeluarkan biaya tambahan.
Sarijan (55), salah satu petani tembakau dusun Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman Yogyakarta, ditemui Kamis (17/9/2015) siang mengatakan, biaya produksi selama masa tanam dan pasca panen mengalami peningkatan, akibat tuntutan pabrik yang mengharuskan pihaknya terpaksa menambah jumlah tenaga kerja. Selain itu, saat ini pun biaya upah tenaga kerja juga naik akibat semua harga kebutuhan pokok mahal.
Dijelaskan Sarijan, penambahan tenaga kerja itu karena pabrik mengharuskan tembakau diproses rajang secara manual yang membutuhkan banyak tenaga kerja dengan waktu pengerjaan yang lebih lama pula. Karena itu, biaya upah tenaga kerja membengkak. 
“Tidak hanya jumlah tenaga kerjanya, tapi juga biaya upahnya. Kalau tahun kemarin upah tenaga kerja hanya tujuh puluh ribu rupiah, sekarang naik menjadi delapan puluh lima ribu rupiah perorang”, jelasnya.
Dengan tingginya upah tenaga kerja, Sarijan masih harus menghadapi kemungkinan harga tembakau yang bisa saja justru menurun. Tahun kemarin harga jual tembakau kering kualitas bagus sebesar Rp 60.000 perkilo. Sekarang, katanya, harga jual tembakau kering kualitas bagus harus bisa mencapai Rp 95-100.000 perkilo.
“Kalau nanti harga jual tembakau kering kualitas bagus di bawah sembilan puluh ribu rupiah, dipastikan petani tembakau seperti saya akan rugi”, tegasnya.
Pengolahan komoditas pertanian tembakau, memang tergolong rumit dan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah cukup banyak. Mulai sejak masa tanam dan panen. Tembakau sendiri memiliki masa tanam 3 bulan. Setelah pohon tembakau berbunga, bunga tembakau itu dipetik terlebih dahulu. Lalu, dibiarkan selama satu hari supaya getahnya mengering. Sesudah itu, daun tembakau baru bisa dipetik.
Sarijan mengatakan, daun tembakau hanya bisa dipetik dua lembar dari setiap satu pohon, lalu dipetik lagi dua lembar setelah lima hari kemudian. Begitu seterusnya sampai sembilan kali pemetikan. Setelah dipetik, daun tembakau dipilah antara yang  bagus, sedang dan buruk. Lalu, didiamkan selama satu hari satu malam supaya matang. Daun tembakau yang bagus, kata Sarijan, jika sudah matang akan berwarna kuning. Dan, setelah matang itu daun tembakau dirajang kemudian dijemur selama dua hari. Setelah kering, daun tembakau digulung lalu dikemas dalam keranjang.
Menurut Sarijan, dalam sehari sekali petik daun tembakau dengan melibatkan 15 tenaga kerja bisa mendapatkan 1, 5 Ton daun tembakau basah. Dari jumlah 1 Ton daun tembakau basah, akan menghasilkan tembakau kering kira-kira 1 Kwintal. “Saat ini kendala relatif tidak ada. Gangguan hama bisa dikatakan juga tidak ada dan kebutuhan air tahun ini juga cukup. Kita hanya tinggal menunggu kepastian harga jual tembakau yang sampai saat ini belum ada”, pungkasnya. 

KAMIS, 17 September 2015
Jurnalis       : Koko Triarko
Foto            : Koko Triarko
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...