PKL, Penyumbang Perputaran Uang di Ibukota yang Selalu Terpinggirkan

JAKARTA — Pedagang Kaki Lima di DKI Jakarta bagi sebagian orang merupakan penyakit yang harus dilenyapkan atau disingkirkan dari roda kehidupan Ibukota. Padahal mereka merupakan salah satu penyumbang perputaran uang setiap harinya di Negara ini khususnya Ibukota yaitu DKI Jakarta.
Dari hitungan di atas kertas, dalam satu hari setiap PKL dapat menghasilkan Rp.200 – 400 ribu, dikalikan 30 hari, tentunya perputaran uang dengan jumlah penduduk dan PKL di Jakarta akan sangat besar.

Namun saat ini, nasib mereka seperti terpinggirkan oleh ‘pembangunan’. Pemegang modal besar lebih mendapatkan hak istimewa dibandingkan dengan PKL yang setiap hari membantu menunjang perekonomian di Ibukota.

Salah satu sekaligus reparasi jaket kulit di pasar poncol bernama Rahman mengaku, dirinya bisa mendapatkan omset minimum per hari 200-400 ribu rupiah perhari. Jika dikalikan 30 hari (1 bulan), omset Rahman adalah 6-12 juta rupiah per bulan. 

Lalu sekarang langkah bijak apakah yang seharusnya ditempuh pemerintah. Jika mengandalkan relokasi demi memberi keleluasaan terhadap pemegang modal besar maka kita akan kehilangan para PKL. Keduanya sebenarnya sama-sama punya daya tawar yang tinggi namun PKL seringkali kalah dan harus tergusur.
Padahal,  pemegang modal besar akan mengangkat sampai habis investasinya jika keadaan ekonomi di dalam negara sedang jatuh atau kacau. Akan tetapi,  PKL tetap ada dan tidak akan kemana-mana.
Berkaca dari sini,  pemerintah negara dan pemerintah provinsi harus lebih serius menangani PKL. Relokasi bukan jalan terbaik,  hal tersebut bisa dialihkan menjadi penyempurnaan lahan yang sudah ada dengan memperlebar lahan tersebut.
Tidak perlu asumsi Evers & Korff tentang ekonomi bayangan untuk melihat betapa PKL merupakan salah satu penyumbang perputaran uang terbesar di negara dan Ibukota,  namun gunakanlah hati yang bersih, fikiran jernih,  disertai perhitungan yang matang akan hal-hal kecil terlebih dahulu sebelum melangkah. Hal itulah yang harus diperhatikan pemerintah dalam menangani PKL.

RABU, 2 september 2015
Penulis       : Miechell Koagouw
Foto            : Miechell Koagouw
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...