Polda Papua Dalami Kasus Hilangnya Dua WNI di Perbatasan PNG

JAYAPURA — Simpang siurnya informasi tentang 2 orang berwarga Negara Indonesia (WNI), yang nampak dipermukaan soal disandera oleh kelompok bersenjata dibawah pimpinan Jefrison Pagawak menjadi perhatian sejumlah aparat keamanan di Papua. Berikut penjelasan Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw terkait informasi tersebut.
“Keadaan dua orang WNI sampai dengan saat ini belum ditemukan. Saya perlu jelaskan sedikit bahwa terkait dengan belum kembalinya 2 WNI ketika kejadian tanggal 9 September kemarin di Skopro Keerom, sampai dengan sekarang memang sudah dilakukan upaya-upaya dari kami pihak kepolisian bantu teman-teman TNI dengan para tokoh yang ada. Namun, sampai sekarang belum ada kejelasan keduanya berada dimana,” kata Waterpauw, Senin (14/09/2015) sore tadi.
Menurutnya, dua hari yang lalu Sabtu (12/092015) ia telah berkomunikasi dengan Konsulat Jenderal RI di Vanimo, Elmar Lubis sampaikan bahwa ada informasi dua orang ini diwilayah PNG, yang diduga dibawa sekelompok masyarakat.
“Kami sampai sekarang sudah lakukan upaya-upaya. Selain itu kami juga telah berkomunikasi ke konsult RI di Vanimo untuk minta bantuan Army PNG pencarian sekaligus identifikasi kejelasan keberadaan dua WNI,” ujarnya.
Polda Papua telah membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) yang sejak kejadian penembakan beberapa hari lalu, sampai sekarang terus lakukan penyelidikan dan sebagainya. “Kami sudah mengutus tiga tokoh masyarakat yang mungkin ada hubungan komunikasi dengan masyarakat yang ada di wilayah PNG, sampai sekarang kami belum menerima informasi dari upaya tiga tokoh ini,” tuturnya.
Mantan Kapolda Papua Barat ini mengaku pihak Army PNG sampaikan bahwa dua orang WNI kini berada dibawah kekuasaan sebuah kelompok kriminal. Namun, Waterpauw menampik kepastian sampai sekarang belum ada kejelasan.
“Kemarin juga dikatakan 3 x 24 diberikan waktu oleh pihak PNG Army kepada kelompok tersebut untuk diserahkan,” ujarnya.
Benar atau tidak, kedua orang ini dibawah kekuasaan kelompok bersenjata, pihaknya hingga kini masih sebatas mendapatkan informasi yang sedang ditindaklanjuti pembuktiannya. Ada tuntutan dari kelompok bersenjata? pihaknya tetap bersikukuh bahwa masih sebatas informasi.
“Baru informasi, artinya ini informasi perlu dibuktikan. Informasinya dua orang itu sudah dibawa keluar dari batas wilayah kesatuan Rpublik Indonesia, oleh siapa dan bagaimana? Kami sedang bangun sigergitas komunikasi dengan semua pihak itu,”sebutnya.
Seandainya, lanjutnya, benar dilakukan kelompok bersenjata tersebut. Menurutnya, kelompok tersebut telah melakukan tindakan kriminal. “Kalau memang ada bukti, kami minta foto, tapi kalau itu masih berkata-kata dalam tugas kepolisian itu masih informasi,” ujarnya.
Apakah ini rangkaian penembakan yang terjadi pada tanggal 9 september lalu? Infonya saat penembakan ada 2 teman korban penembakan tersebut melarikan diri. “Informasinya dua temannya sampai sekarang lari dan belum ditemukan, katanya dibawah oleh kelompok kriminal, kita masih butuh pembuktiannya,” katanya.
Apakah benar kelompok bersenjata dibawah pimpinan Jefrison Pagawak yang melakukan penyanderaan? Dikatakan Waterpauw, informasinya seperti itu, namun semuanya masih dalam pembenaran, apakah informasi tersebut benar atau tidak.
“Itu informasi, kepastiannya bagi kami, kalau dibawah kekuasaan kelompok ini, dari catatan kepolisian kelompok mereka ini adalah kelompok kriminal yang dulu melakukan kejahatan di sini, baik di Jayapura maupun Timika. Tapi, kami tetap kordinasi beberapa pihak, agar bisa ada bukti gambar atau foto bahwa mereka disandera,” tutur mantan Kasat Reskrim Polresta Jayapura tahun 2006 ini.
Sebelumnya media ini mendapatkan informasi bahwa 2 orang WNI atas nama Sudirman (28) dan Badar (30) dinyatakan hilang oleh rekan kerjanya Kuba Marmahu (38) yang menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal saat senso kayu di hutan Skopro, Arso Timur, Kabupaten Keerom. Namun, pada hari Sabtu (12/09/2015) muncul kabar, kedua orang tersebut disandera kelompok bersenjata di wilayah PNG.

SENIN, 14 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...